POJOKSULSEL, MAKASSAR – Estafet kepemimpinan di tubuh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sulawesi Selatan resmi bergulir. Badruddin Kaddas, S.Ag., M.Ag., Ph.D., resmi dilantik sebagai Ketua LPTNU Sulsel, membawa semangat baru dalam pengembangan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di wilayah ini.
Ketua LPTNU Sulsel Badruddin Kaddas menegaskan komitmennya menjadikan PTNU sebagai kekuatan strategis yang tak hanya unggul dalam sains dan teknologi, tapi juga kokoh dalam akhlak dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
“PTNU bukan sekadar lembaga akademik. Ia adalah penjaga nilai, penggerak perubahan, dan pencerah umat,” tegas Badruddin Kaddas usai dilantik sebagai Ketua LPTNU Sulsel.
Di bawah nakhodanya, LPTNU Sulsel akan mendorong PTNU agar tak hanya melahirkan lulusan berotak encer, tetapi juga berjiwa sosial dan berakhlak mulia. Kurikulum akan diperkuat dengan integrasi keilmuan modern dan nilai-nilai Islam wasathiyah yang menjadi ciri khas NU.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Majene Gerebek Pengedar Obat Terlarang di Banggae, 2 Tahun Sasar Anak Muda
“Pendidikan yang berdampak adalah pendidikan yang memanusiakan. PTNU harus menjadi rumah ilmu dan karakter,” ujarnya.
Strategi Lima Pilar
Untuk menjawab tantangan zaman dan kebutuhan umat, Badruddin menyiapkan lima strategi utama pengembangan PTNU Sulsel.
1. Peningkatan Mutu Akademik dan SDM
Fokus pada penguatan akreditasi prodi, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan riset dan pengabdian masyarakat.
2. Penguatan Infrastruktur dan Pendanaan
Melalui sinergi dengan pemerintah, swasta, dan jejaring NU, PTNU diharap mampu membangun kampus yang representatif dan modern.
Baca Juga: Ulama Besar Lebanon Isi Daurah Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah di PPTQ Ilmul Yaqin Maros
3. Program Studi Berbasis Kebutuhan Lokal
Sejumlah bidang seperti agribisnis, kelautan, ekonomi syariah, hingga teknologi informasi akan dikembangkan sesuai potensi daerah.
4. Aswaja dan Kearifan Lokal
PTNU akan diarahkan menjadi pusat kajian Islam moderat, sembari mengangkat kearifan lokal Bugis-Makassar sebagai kekayaan akademik.
5. Digitalisasi dan Inovasi Pembelajaran
Pembelajaran daring dan riset inovatif akan diperkuat agar PTNU mampu menjangkau generasi muda, bahkan di daerah terpencil.
Kolaborasi Jadi Kunci
Menurut Badruddin Kaddas, keberhasilan pengembangan PTNU tak bisa ditopang satu pihak. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah, PWNU-PCNU, dunia usaha, serta alumni.
“Kita ingin PTNU menjadi rumah besar yang inklusif, sinergis, dan adaptif terhadap perubahan,” jelasnya.
Dengan semangat al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah—melestarikan nilai lama yang baik dan mengadopsi yang baru yang lebih baik—Badruddin ingin menjadikan PTNU sebagai mercusuar pendidikan di Sulawesi Selatan.
“Bersama NU, kita wujudkan pendidikan tinggi yang mencerahkan dan memberdayakan,” pungkasnya.
***




