POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, Ph.D., mengajak sivitas akademika dan masyarakat untuk merenungi filosofi sederhana yang kerap luput dari perhatian: biji pohon.

Dalam refleksi perenungannya, Hamdan Juhannis menyebut bahwa kehidupan manusia seharusnya belajar dari cara biji bertumbuh.

“Ternyata kita sering tidak menyadari bahwa pohon itu, yang dimulai dari biji selalu tumbuh dari dua arah," kata Hamdan Juhannis.

Baca Juga: Unhas Kukuhkan Empat Guru Besar Teknik, Bahas Infrastruktur Tangguh hingga Eksplorasi Mineral

Menurut Prof Hamdan, secara bersamaan biji pohon itu tumbuh ke bawah dan tumbuh ke atas. Apa yang tumbuh ke atas persis dengan apa yang tumbuh ke bawah.

Menurutnya, pertumbuhan ke atas adalah metafora dari keberhasilan, pencapaian, dan pengakuan yang kasat mata.

Ini yang disebutnya sebagai aspek phototropik kehidupan – menjulang ke arah cahaya, menjadi pohon rindang yang indah, difoto, dipuji, dan dibanggakan.

Baca Juga: Tasming Hamid Sambut Kapolres Baru, Harap Keamanan Parepare Makin Terjaga

Namun, ada sisi lain yang justru lebih menentukan: akar yang tumbuh ke dalam tanah. Bagian ini tidak terlihat, tapi justru menjadi fondasi kekokohan pohon.

Pertumbuhan ke bawah itulah aspek gravitropik kehidupan. Akar yang menyatu dengan tanah, bertarung dengan lumpur, bergulat dengan bebatuan. Tanpa itu, pohon tak mungkin berdiri tegak.

"Kita sering abai terhadap sisi sisi gravitasi kehidupan yang berkubang ke bawah, bertarung ke bawah," katanya.

Baca Juga: Perdana! STAIN Majene Persembahkan Prodi Akreditasi Unggul, Ini Ungkapan Haru Prof Wasilah Sahabuddin

Prof Hamdan menekankan bahwa dalam kehidupan, banyak orang hanya ingin tumbuh ke atas tanpa proses pendalaman. Padahal, untuk menjulang, seseorang harus lebih dulu membumi.

“Semakin dalam akarnya, semakin tinggi pohon bisa tumbuh,” tegasnya.

***