POJOKSULSEL, MAKASSAR - Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, melaksakan Workshop Manajemen Pengelolaan Perpustakaan Masjid Tahun 2025 selama dua hari, yaitu tanggal 27 dan 28 April 2025.
Workshop Manajemen Pengelolaan Perpustakaan Masjid yang berlangsung di Aerotel Smile Hotel, itu diikuti oleh 30 peserta.
Para peserta Workshop Manajemen Pengelolaan Perpustakaan Masjid, berasal dari Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kabupaten/Kota.
Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, H Abdul Gaffar, mengungkapkan bahwa Sulsel berhasil masuk empat besar nasional dalam kategori Guest Access Elipski terbanyak di awal 2025.
Capaian ini dinilai sebagai bukti meningkatnya minat masyarakat Sulsel dalam mengakses literasi keagamaan digital.
Elipski (Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam) merupakan perpustkaan Islam digital berbasis web yang dikembangkan oleh Kementerian Agama.
Baca Juga: PTBMMKI Wilayah 5 Gelar Kampanye 5-Sense di CFD Makassar Peringati HKBN 2025
Kapustim Kepustakaan Islam Kemenag RI, H Insan Khoerul Qalbi, mengatakan, bidang urusan Agama Islam mulai provinsi, kabupaten/kota, mapun KUA Kecamatan, memiliki tanggung jawab bersama mendorong masyarakat dan umat, agar memaksimalkan pemanfaatan perpustakaan Islam yang ada di Masjid
“Terlebih bila perpustakaannya sudah terdigitalisasi, tentu akan semakin mempermudah masyarakat kita dalam mengaksesnya," kata Insan Khoerul Qalbi.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H Ali Yafid, menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan perpustakaan masjid sebagai upaya mencerdaskan generasi bangsa dan agama.
Baca Juga: Kota Makassar Awali Road to Milo Activ Indonesia Race 2025, 3.500 Pelari Berpatisipasi
Ia menyampaikan, pengolaan perpustakaan masjid bertujuan mencerdaskan generasi bangsa dan menguatkan ajaran Islam yang moderat, damai, dan wasathiyah.
Ali Yafid berharap setiap Kemenag dan Satker di kabupaten/kota di Sulsel minimal memiliki satu masjid binaan yang memiliki perpustakaan masjid.
Ia juga menyoroti tantangan era digital yang membuat generasi muda semakin jauh dari literasi keilmuan dan keagamaan.
Karena itu, pengurus masjid dan pengelola perpustakaan didorong untuk berpikir kreatif, misalnya dengan menghadirkan perpustakaan Islam digital agar lebih mudah diakses oleh generasi dari Gen X hingga Gen Z.
***
.




