POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar memiliki model pembinaan karakter secara berjenjang pada mahasiswa.

Rektor Universitas Muslim Indonesia, Prof Sufirman Rahman mengatakan, pendidikan karakter adalah cara UMI menjawab anamat Undang-Undang Pendidikan Nasional tentang pembentukan karakter.

Prof Sufirman mengatakan, Universitas Muslim Indonesia ingin membentuk sebuah karakter moral yang berintegritas di kalangan mahasiswa UMI.

Baca Juga: Hj Meity Rahmatia Jadi Ketua Tim Pemenangan Amri Arsyid - Rahman Bando di Pilkada Makassar

"Sehingga peserta didik kita tidak hanya mendapatkan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, seni budaya," kata Prof Sufirman beberapa waktu lalu.

Pendidikan karakter berjenjang sejalan dengan visi UMI, yaitu ingin menghasilkan luaran yang berilmu amaliyah, beramal ilmiah, berakhlakatul karimah, dan berdaya saing internasional.

Seiring dengan target UMI untuk menjadi Perguruan Tinggi berkelas dunia, maka dilakukan gerakan bersama internasionalisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Baca Juga: 744,6 Ton Sampah Laut Dikumpulkan Lewat Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut 2024

"Sehingga, daya saing yang kita canangkan itu adalah daya saing internasional," kata dia.

Prof Sufirman menjelaskan, model pembentukan karakter berjenjang di UMI diawali dengan Pekan Pesantren Kilta bagi mahasiswa baru.

"Pesantren kilat UMI merupakan model dalam pembentukan karakter. Karakter Islami, karakter moral, menjadi seorang sarjana yang berintegritas," katanya.

Baca Juga: Deklarasi Berkonsep Pluralitas, Appi - Aliyah Komitmen Rangkul Semua Elemen

Tidak sampai di situ, UMI memiliki program Pencerahan Qalbu selama sebulan. Pencerahan Qalbu UMI dikonversi dalam enam SKS.

Selain itu, visi institusi UMI dijabarkan ke fakultas lewat unit penyelenggara program studi (UPPS).

Kumudian, visi fakultas dijabarkan lagi ke prodi. Visi prodi dijabarkan lagi ke kurikulum.

"Setiap kurikulum kan kumpulan mata kuliah, bahan kuliahnya yang disebut dengan rencana pembelajaran semester, bahan-bahannya, materinya apapun mata kuliahnya, apa pun materinya selalu dikaitkan dengan nilai-nilai islami," ungkapnya.

Misalnya, pada Fakultas Pertanian. Rencana pembelajaran semester akan merumuskan bercocok tanam dengan cara Islam seperti apa, memanen, hingga memetik.

Baca Juga: Di Unhas, Sakti Wahyu Trenggono Paparkan 5 Arah Kebijakan Ekonomi Biru KKP

"Yang di FKM, yang di Kedokteran, bagaimana melayani pasien, bagaimana memperlakukan pasien secara islami, semua terjabarkan sampai kepada perilaku sehari-hari. Jadi konek," ungkapnya.

"Jadi, kita hilirisasi mulai dari visi sampai kepada bahan ajar mata kuliah, yang termuat dalam rencana pembelajaran semester. Jadi kita betul-betul sistematis," tambah Prof Sufirman.

***