POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis, mengatakan bahwa Ramadhan 1445 H bisa jadi lebih spesial.
Menurut Prof Hamdan Juhannis, lebih spesialnya Ramadhan 1445 H karena bisa menjadi momentun merenggangkan emosi setelah Pemilu 2024.
Ramadhan 1445 H, lanjut Prof Hamdan Juhannis, adalah waktu untuk menguatkan zikir setelah selama ini, dipenuhi dengan aksi pikir.
"Saatnya membuka kitab suci sambil merenungi ayat-ayat yang mengajarkan kebersamaan, bukan saatnya menggali dalil-dalil yang bisa dipelintir untuk mengaduk konflik," kata Hamdan Juhannis dalam tulisannya berjudul Bersatu Kita Teguh (2).
Baca Juga: Pelunasan Ibadah Haji 2024 Tahap 2 Dikhususkan untuk 4 Kategori Ini, Selain Itu Tidak Dibolehkan
Tidak hanya itu, Guru Besar Sosiologi UIN Alauddin Makassar, itu mengajak umat Islam untuk menyimak ceramah yang menyejukkan hati dan menginspirasi rasa kebersamaan, bukan saatnya mendengar provokasi dari mimbar yang berpotensi memecah rasa bersesama kita.
Ia juga mengatakan, bahwa Ramdhan 2024 adalah kesempatan menguatkan budaya baik kepada yang tak berpunya untuk melatih empati, bukan saatnya berbagi dengan motif menarik simpati.
"Saatnya menyingsingkan ragam aksesoris hidup yang membuat kita lebih tersekat," katanya.
Hal penting lain yang menjadikan Ramadhan 2024 menjadi lebih spesial, kata Hamdan Juhannis, yaitu Saatnya berpadu dalam deretan jamaah shalat yang fungsinya melatih kesetaraan.
"Saatnya bersenda gurau yang sifatnya memperkuat sisi-sisi kesamaan. Bukan saatnya kita berdebat yang memperlebar jurang perbedaan," kata Hamdan Juhannis.
Hal lain yag disampaikan Hamdan Juhannis, adalah saatnya menonjolkan simbol-simbol kebersamaan yang tercipta dari jari tangan atau suara-suara persahabatan yang terdengar dari ajakan, bukan saatnya memamerkan simbol yang mengeskalasi perbedaan atau teriakan yang memompa emosi identitas subyektif kita.
Saatnya kita duduk sama rendah, berbuka puasa sama rasa pada acara buka puasa bersama sambil berdoa keberkahan hilangnya rasa haus. Bukan saatnya berbuka puasa tapi haus dan dahaga kebencian pada orang lain yang masih terpelihara.
Dirinya juga menggarisbawahi tentang melakukan pertaubatan massal tanpa mencari-cari kesalahan yang lain, bukan saatnya mendeklarasikan kesucian sambil melemparkan kesalahan pada yang lain.
"Saatnya melakukan koreksi dan refleksi diri tentang apa salah, bukan saatnya lagi menunjuk siapa yang salah. Saatnya merasa salah bersama, karena dari sana kita bisa belajar dari kesalahan secara bersama," ungkap Rektor UIN Alauddin dua periode itu.
Tidak hanya itu, penulis buku Melawan Takdir itu, mengajak semua kalangan untuk menyimpan rapat dinamika politik pasca Pemilu 2024. Apapun pilihan politik masing-masing individu.
"Saatnya kita menyatukan kembali silaturrahim yang sempat terkoyak. Bukan saatnya fanatik pada nomor pilihan lalu mengorbankan yang lebih besar, persatuan," ungkapnya.
Baca Juga: 17 Ramadhan 2024, Bahtiar Baharuddin Launching Gerakan Sedekah Pohon untuk Pulihkan Alam Sulsel
Saatnya kita menggunakan momentum ini untuk merekatkan kembali kerenggangan, dan kembali fokus pada urusan kita masing-masing.
Karena kata penceramah tadi malam: "siapapun pilihannya, jangan lupa untuk tetap bayar cicilannya." ***




