POJOKSULSEL.com, MAKASSAR - Literasi digital menjadi kunci untuk melawan radikalisme, termasuk ancaman terorisme, yang dapat tumbuh subur di media sosial dan menghanyutkan anak-anak muda.

Media sosial, kini telah menjadi ruang publik yang luas dan terbuka, seringkali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan radikalisme di kalangan generasi muda.

Baca Juga: Smes and Financing Expo 2024 Bisa Jadi Jalan UMKM Lorong Naik Kelas, Kok Bisa?

Sebagai contoh, ISIS, kelompok radikal ternama di dunia, banyak merekrut simpatisannya melalui konten yang mereka sebarkan di media sosial.

Dalam Seminar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema "Literasi Digital: Tangkal Radikalisme di Dunia Digital," Kominfo RI dan DPR RI menyajikan tips untuk mencegah radikalisme di media sosial dikutip Hops.ID, Sabtu 2 Maret 2024.

Baca Juga: Daftar 9 Pejabat Ikut Penulisan Makalah dan Asesmen Seleksi JPT Kepala Kanwil Kemenag Sulsel

Semuel Abrijani Pangerapan selaku Dirjen Aplikasi dan Informatika (APTIKA) Kominfo RI, menegaskan pentingnya meningkatkan literasi digital.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan hidup sehari-hari.

Media sosial menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai radikalisme.

Peningkatan kesadaran dan pengetahuan digital menjadi langkah penting dalam melawan ancaman ini.

Baca Juga: Ustaz Kaswad Sartono Bahas Etika Politik dalam Perspektif Islam Pada Gerakan Unhas Mengkaji dan Salat Berjamaah

“Atas dasar itulah yang mendorong kami untuk melakukan peningkatan kesadaran, pengetahuan dan kecakapan digital,” jelasnya.

Bijak Berselancar di Internet

Fajar Tawakkal menjelaskan bahwa penggunaan internet yang bijak dapat menangkal radikalisme.

Memilih informasi yang relevan, membatasi akses terhadap konten yang tidak diperlukan dan menggunakan internet secara produktif adalah langkah-langkah penting.

Fajar juga mengingatkan untuk waspada terhadap tanda-tanda ajakan pertemuan tertutup dan ujaran kebencian di media sosial.

Baca Juga: Rumah Sakit Pendidikan UIN Alauddin Makassar Segera Beroperasi, Dana Awal Rp5 Miliar Dikucurkan Tahun Ini

“Kita tuh harus curiga bilamana adanya ajakan pertemuan tertutup, ajakan perkumpulan grup yang isinya berupa ujaran kebencian, serta ajakan patungan uang untuk organisasi yang tidak terdaftar,” pesan Fajar mengingatkan.

Pahami dan Amalkan Nilai-nilai Pancasila

Prof. Dr. Widodo Muktiyo, S.E., M.Com, menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai benteng melawan radikalisme.

Pemahaman yang kuat terhadap ideologi Pancasila dapat mencegah penyebaran paham radikal di masyarakat.

“Mari kita menggunakan sosial media dengan riang gembira, tapi tetap selalu mengedepankan apapun yang kita buat, dapat memiliki pesan-pesan positif yang menginspirasi dan memotivasi teman yang lain, dan dibingkai dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an kita, idoelogi Pancasila,” terangnya.

Pahami 'Radikal' yang Baik

Abdul Kharis Almasyhari, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, menggarisbawahi pentingnya sikap radikal dalam mempertahankan kedaulatan negara.

Baca Juga: Tumbangkan Incumbent, Mantan Pemain PSM Makassar Ardan Aras Kunci Satu Kursi DPRD Polman Dapil Polman 1

"Dalam konteks positif, yaitu dalam rangka mempertahankan kedaulatan negara, kita juga harus melakukan langkah yang radikal, yaitu mengusir seluruh musuh-musuh negara,” ujar Abdul Kharis Almasyhari.

Masyarakat harus memiliki sikap radikal dalam menolak segala bentuk intervensi asing yang dapat merugikan Indonesia.

Kesadaran akan ancaman radikalisme di era digital harus ditingkatkan dan masyarakat harus waspada terhadap segala pengaruh negatif yang dapat merusak bangsa dan negara.

“Semestinya, kita rela dikatakan radikal ketika kita menentang seluruh intervensi asing di Indonesia, yang membuat kita tidak merdeka," pungkasnya. ***