MENJALANI penelitian disertasi bukanlah semata kegiatan ilmiah yang menuntut ketekunan metodologis, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna. Begitulah yang saya rasakan selama melaksanakan penelitian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, meliputi Kampus 1 dan Kampus 2 di Ciputat, serta PPG UIN Syarif Hidayatullah di Depok. Perjalanan ini mempertemukan saya dengan orang-orang hebat yang bukan hanya berilmu tinggi, tetapi juga berhati lapang dan penuh keikhlasan dalam berbagi pengetahuan.
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan adalah saat saya bertemu dengan Bapak Dr. Idris Thaha, M.Si., sosok yang telah menjadi editor hampir seluruh karya buku Prof. Azyumardi Azra, tokoh utama dalam penelitian disertasi saya. Beliau meluangkan waktu selama dua hari penuh untuk wawancara, menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan mendalam. Tidak hanya itu, beliau juga dengan penuh kepercayaan meminjamkan seluruh koleksi karya Prof. Azra untuk saya salin. Sikap tersebut menunjukkan betapa kuatnya semangat berbagi pengetahuan di kalangan akademisi, bahwa ilmu bukanlah milik pribadi, melainkan cahaya yang harus diteruskan kepada siapa pun yang ingin mencarinya.
Malam yang tak kalah berkesan adalah ketika saya berkunjung ke kediaman Ibu Dra. Ipah Farihah, M.H., istri almarhum Prof. Azyumardi Azra. Meskipun malam itu hujan deras dan beliau berada seorang diri di rumah, sambutannya begitu ramah dan lembut. Dengan ketenangan yang memancar dari sikapnya, beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan penuh perhatian, seakan menghadirkan kembali keteduhan sosok Prof. Azra yang dikenal tidak hanya sebagai pemikir besar, tetapi juga manusia yang tulus dan bersahaja.
Pertemuan itu tidak sekadar memperkaya data penelitian saya, tetapi juga menggetarkan ruang batin, seolah saya sedang berziarah intelektual ke rumah seorang guru bangsa.
Hari ketiga saya berkesempatan bertemu dengan Prof. Abuddin Nata, M.A., seorang tokoh yang karya-karyanya telah menjadi rujukan utama sejak penulisan tesis saya dulu. Beliau pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor II UIN Syarif Hidayatullah pada masa kepemimpinan Prof. Azyumardi Azra sebagai rektor. Di tengah kesibukan mengajar dan aktivitas akademiknya, beliau tetap meluangkan waktu untuk wawancara. Ketulusan dan kehangatan yang beliau tunjukkan menjadi dorongan moral yang tak ternilai, menegaskan bahwa keilmuan sejati selalu disertai dengan kelapangan hati.
Baca Juga: Kapolrestabes Makassar Keluarkan Lima Imbauan Usia Bentrokan di Kecamatan Tallo
Tidak hanya para tokoh besar, namun juga para staf dan pegawai di lingkungan kampus UIN Syarif Hidayatullah, termasuk petugas perpustakaan Sekolah Pascasarjana, menunjukkan keramahan dan profesionalisme yang luar biasa. Mereka dengan sabar membantu saya menemukan berbagai referensi penting yang dibutuhkan. Dalam suasana itu, saya merasakan betul bahwa suasana akademik, kebatinan, dan intelektual berpadu menjadi satu napas yang hidup. Kampus ini bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang spiritual yang menumbuhkan ketulusan dan kesadaran akan makna pengetahuan itu sendiri.
Selama masa penelitian, saya menetap di Apartemen Green Pramuka City, salah satu kawasan padat di jantung Jakarta. Dari jendela kamar, terlihat lalu lintas yang tak pernah sepi dan gemerlap lampu malam yang menjadi ciri khas ibu kota. Di sinilah saya merasakan denyut kehidupan Jakarta yang serba cepat dan dinamis, orang-orang bergegas sejak pagi, kendaraan berseliweran tanpa henti, dan waktu seolah berpacu tanpa memberi jeda. Namun, di balik hiruk pikuk itu, saya menemukan ruang-ruang kecil untuk merenung. Di setiap perjalanan menuju Ciputat atau Depok, di antara kemacetan dan panas terik, saya belajar tentang kesabaran, keteguhan, dan adaptasi, nilai-nilai yang sejatinya juga menjadi bagian dari etika seorang peneliti.
Jakarta mengajarkan saya arti kedisiplinan dan ketangguhan. Di kota ini, setiap langkah harus terencana, setiap pertemuan membutuhkan waktu dan komitmen, dan setiap interaksi membuka peluang untuk belajar dari beragam latar belakang manusia. Kehidupan di Jakarta adalah kehidupan yang keras, namun sekaligus menumbuhkan rasa syukur dan empati. Bahwa di tengah gedung-gedung tinggi dan ritme modernitas yang cepat, masih banyak orang baik yang tulus membantu, seperti para akademisi dan staf kampus yang saya temui.
Melalui seluruh pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa penelitian bukan hanya aktivitas akademik, melainkan juga perjalanan spiritual dan humanistik. Setiap wawancara, setiap percakapan, dan setiap tumpukan buku yang saya baca, mengandung nilai-nilai keteladanan, keikhlasan, dan kasih sayang. Dari para tokoh yang saya temui, saya belajar bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disertai adab; dan peneliti sejati bukan sekadar pencari data, tetapi juga pencari makna.
Akhirnya, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada ketiga informan atas waktu dan berbagi ilmu serta pengalaman kepada saya sebagai peneliti. Terima kasih sebesar-besarnya juga kepada Prof. Muljono Damopolii, M.Ag. atas dukungan, arahan, dan bimbingan beliau yang begitu berarti. Berkat fasilitasi dan komunikasi yang beliau bangun, saya dapat bertemu dan berdialog langsung dengan Prof. Abuddin Nata. Terima kasih juga saya sampaikan kepada suami tercinta yang telah dengan sabar dan penuh semangat mendampingi selama proses penelitian ini. Dukungan moril, materil, dan doa yang tiada henti menjadi sumber kekuatan dalam setiap langkah saya. Demikian pula kepada keluarga besar, terima kasih atas kasih sayang dan pengertian yang mengiringi perjalanan akademik ini dari awal hingga akhir.
Baca Juga: Prof Ida Komitmen Atensi Masalah Kekerasan Selama Pimpin Masa Transisi UNM: Mandat Pertama Menteri!
Kini, ketika saya menatap kembali perjalanan di Ciputat, Depok, dan hari-hari yang saya lalui di Jakarta, yang tersisa bukan hanya catatan wawancara dan dokumen penelitian, melainkan rasa syukur mendalam atas kesempatan menapaki jejak para cendekiawan besar. Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa dunia akademik Indonesia tetap menyimpan harapan besar: bahwa di tengah arus modernisasi dan kesibukan, masih tumbuh subur budaya ilmu yang santun, hangat, dan penuh nilai kemanusiaan.
Penulis: Hastuti, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dosen dan Peneliti Bidang Integrasi Keilmuan Prodi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar.
Mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, sedang meneliti pemikiran dan kepemimpinan Prof. Azyumardi Azra

