IDULADHA sering dipahami sebagai momentum ritual penyembelihan hewan kurban. Namun, makna substansial hari raya ini sesungguhnya melampaui aspek seremonial tersebut. Dalam khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Ustaz Hamzah Aziz di Masjid Jami’ Darussalam Lembang-Lembang, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, terdapat penekanan menarik pada pembacaan QS. Al MunafIqun ayat 10 sebagai fondasi teologis untuk memahami relasi antara kurban, sedekah, kematian, dan keselamatan akhirat.
Allah SWT berfirman: "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh." (QS. Al-Munafiqun: 10)
Ayat ini memuat pesan yang sangat kuat tentang urgensi amal sebelum datangnya kematian. Dalam konteks khutbah Iduladha, Ustaz Hamzah Aziz tidak membaca ayat tersebut hanya sebagai anjuran umum untuk bersedekah, melainkan sebagai peringatan eskatologis bahwa manusia sering terlambat menyadari nilai spiritual dari memberi.
Salah satu kata kunci penting dalam ayat ini adalah frasa “مِنْ قَبْلِ” (min qabli) - “sebelum”. Kata tersebut menunjukkan adanya batas waktu bagi manusia untuk beramal. Amal saleh, sedekah, infak, dan pengorbanan hanya memiliki nilai selama manusia masih hidup dan memiliki kesempatan bertindak. Ketika kematian datang, ruang ikhtiar tertutup.
Menariknya, Alquran menggambarkan bahwa ketika seseorang menghadapi kematian, permintaan yang muncul bukanlah tambahan umur untuk memperluas usaha, menambah kekayaan, memperbaiki rumah, atau mengejar status sosial. Yang diminta justru adalah kesempatan untuk bersedekah.
Baca Juga: Tasming Hamid Gandeng BPJS Ketenagakerjaan, 1.500 Pekerja Rentan Parepare Kini Terlindungi
Di sinilah letak relevansi ayat tersebut dengan Iduladha.
Secara etimologis, kata kurban (قربان) berasal dari akar kata قرب yang berarti dekat. Kurban merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah melalui pengorbanan yang lahir dari ketaatan dan keikhlasan. Karena itu, penyembelihan hewan dalam Idul Adha tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir ibadah, melainkan sebagai simbol dari kesediaan manusia untuk melepaskan sebagian yang dicintainya demi Allah.
Dalam khutbahnya, Ustaz Hamzah Aziz menegaskan bahwa hakikat kurban tidak terletak pada darah dan daging yang dipersembahkan, melainkan pada kualitas ketakwaan yang menyertainya. Penegasan tersebut sejalan dengan firman Allah:
"Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian." (QS. Al-Hajj: 37)
Dengan demikian, QS. Al Munafiqun: 10 dan QS. Al-Hajj: 37 membentuk hubungan konseptual yang menarik. Ayat pertama menekankan urgensi memberi sebelum datangnya kematian, sementara ayat kedua menjelaskan bahwa nilai ibadah tidak diukur oleh aspek materialnya, tetapi oleh ketakwaan yang mendasarinya.
Khutbah tersebut juga mengaitkan tema Iduladha dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Kisah ini bukan semata narasi sejarah keagamaan, tetapi model ideal tentang bagaimana manusia mendahulukan kehendak Allah di atas kepentingan pribadi.
Baca Juga: Wali Kota Tasming Hamid Serahkan Sapi Kurban Presiden Prabowo kepada Warga Wattang Bacukiki
Ibrahim diuji melalui sesuatu yang paling dicintainya. Ismail diuji melalui kepatuhan total terhadap perintah Ilahi. Keduanya menunjukkan bahwa inti penghambaan adalah kemampuan mengalahkan keterikatan terhadap dunia demi memenuhi panggilan Tuhan.
Dalam kehidupan modern, pesan ini memiliki relevansi yang tinggi. Masyarakat kontemporer hidup di tengah budaya materialisme, kompetisi ekonomi, dan kecenderungan akumulasi kepemilikan. Alquran sendiri telah menggambarkan tabiat manusia:
"Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang sangat kuat." (QS. Al-Fajr: 20)
Karena itu, Iduladha dapat dibaca sebagai pendidikan spiritual untuk membebaskan manusia dari dominasi kecintaan berlebihan terhadap harta.
Dalam khutbahnya, Ustaz Hamzah Aziz memperkuat pesan tersebut dengan mengutip hikmah yang dinisbatkan kepada al-Balkhiy: "Aku mencari kelapangan hidup, maka aku menemukannya dalam sedekah."
Serta ungkapan lain: "Aku mencari kemudahan melewati shirath, maka aku menemukannya dalam sedekah."
Meskipun berasal dari tradisi hikmah sufistik, ungkapan tersebut memiliki makna etis dan spiritual yang mendalam. Sedekah dipahami bukan hanya sebagai praktik distribusi ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan jiwa, pelembutan hati, dan investasi akhirat.
Baca Juga: Jalan MYP Sulawesi Selatan Dikebut, Ruas Gowa hingga Bone Mulai Mulus
Dalam perspektif etika Islam, sedekah mengandung dimensi sosial sekaligus eskatologis. Ia membantu sesama manusia di dunia sekaligus menjadi bekal bagi pelakunya di akhirat. Oleh karena itu, pengaitan sedekah dengan konsep shirath dalam khutbah tersebut memperlihatkan pembacaan yang menempatkan amal sosial sebagai bagian integral dari keselamatan eskatologis.
Dalam konteks masyarakat lokal di Polewali Mandar, pesan seperti ini mempunyai nilai strategis. Tradisi kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakat membutuhkan penguatan nilai keagamaan yang mampu menjaga keseimbangan antara ritualitas dan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, pembacaan QS. Al-Munafiqun: 10 dalam konteks Iduladha sebagaimana dikembangkan dalam khutbah Ustaz Hamzah Aziz di Masjid Jami’ Darussalam Lembang-Lembang menunjukkan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Ia adalah panggilan untuk memperbaharui kesadaran manusia tentang keterbatasan waktu, pentingnya sedekah, makna pengorbanan, dan urgensi mempersiapkan bekal sebelum datangnya kematian.
Iduladha, dengan demikian, tidak sekadar menghadirkan gema takbir dan distribusi daging kurban, tetapi juga mengajarkan satu pertanyaan mendasar bagi setiap manusia: apa yang telah kita persiapkan sebelum tiba saat di mana kita hanya mampu berkata, "Ya Rabb, sekiranya Engkau memberi aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah."
Penulis: Zaliha Kadir

