TENTUNYA kita yang kembali bersua dengan Ramadhan tahun ini patut bersyukur, karena termasuk orang-orang yang memiliki kesempatan besar menabung pahala berlipat ganda.
Maka sangat wajar jika sepatutnya kita bersuka cita, menyambut Ramadhan layaknya tamu agung yang mungkin tahun depan tidak menemui kita lagi.
Namun seiring perkembangan waktu dan teknologi, akhir-akhir ini terasa ada fenomena berbeda setiap hadirnya bulan Ramadhan. Di balik sukacita dan haru yang menyeruak, ada satu kebiasaan kecil yang pelan-pelan berubah, dan mungkin kita tidak langsung menyadarinya.
Dulu, selepas sahur atau sebelum berbuka, ada momen hening yang terasa akrab. Duduk khidmat memegang mushaf, membaca beberapa ayat meski terbata atau sambil menahan kantuk. Suara ayat-ayat suci terdengar lirih dari sudut rumah atau masjid menghadirkan rasa teduh yang sulit dijelaskan. Semua larut dalam Kalamullah, mengisi relung hati yang sudah setahun merindukan momen ini.
Kini, suasananya sudah berbeda. Meski pemandangannya sekilas nyaris sama, kepala tetap tertunduk, tangan tetap sibuk, tetapi yang disentuh bukan lagi lembaran Al-Qur’an, melainkan layar ponsel. Jari begitu lincah, tak mengenal terbata. Bahkan kantuk pun seolah enggan menghampiri. Raut wajah yang dulu mengharu biru melafazkan ayat demi ayat, kini berganti senyum sumringah setiap kali konten yang disaksikan terasa menggelitik.
Tanpa terasa, waktu yang dulu kita niatkan untuk mengaji, perlahan tergantikan oleh media sosial. Awalnya hanya ingin “sebentar saja” sambil menunggu adzan magrib. Atau sekadar mengulur waktu menunggu adzan Subuh selepas sahur. Namun tanpa sadar, setengah jam berlalu. Bahkan satu jam.
Baca Juga: Sekda Amarun Agung Hamka Buka Ramadhan Fair Vol.5 di Lapangan Andi Makkasau
Ramadhan seharusnya menjadi momen paling intim antara kita dan Sang Pencipta. Bulan di mana Al-Qur’an diturunkan, bulan yang identik dengan tilawah dan tadabbur. Tetapi ironisnya, justru di bulan ini perhatian kita semakin terpecah. Kita dengan mudah terdistraksi dengan konten media sosial yang fyp di beranda kita.
Media sosial memang tidak selalu buruk. Ada ceramah, kajian, potongan ayat, dan konten inspiratif yang bisa menambah wawasan. Namun masalahnya bukan pada medianya, melainkan pada kendali diri kita. Seringkali yang kita konsumsi bukan ilmu, melainkan hiburan tanpa henti. Dari satu video ke video lain, dari satu unggahan ke unggahan berikutnya. Tanpa sadar, hati yang seharusnya tenang justru menjadi riuh.
Di sinilah esensi Ramadhan terasa mulai kabur.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan distraksi. Menahan dorongan untuk terus terhubung dengan dunia luar, dan memberi ruang bagi jiwa untuk terhubung dengan yang Maha Kuasa. Namun jika hampir setiap jeda kita isi dengan scrolling media sosial, lalu kapan hati itu benar-benar diajak tafakur mengenal diri?
Ramadhan adalah latihan fokus. Fokus pada ibadah. Fokus pada perbaikan diri. Fokus pada makna. Tetapi dunia digital bekerja sebaliknya, ia dirancang untuk membuat kita sulit berhenti. Dan inilah yang membuat kita seolah kecanduan scrolling.
Bukan berarti kita harus memusuhi teknologi. Tetapi Ramadhan mengajarkan keseimbangan. Jika layar ponsel lebih sering menyala dibanding mushaf, mungkin ada yang perlu ditata ulang
Esensi yang terlupakan itu sesungguhnya sederhana: menghadirkan hati. Membaca bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi untuk memahami. Mengaji bukan sekadar target khatam, tetapi sebagai proses memaknai dan membersihkan batin.
Ramadhan hanya datang sekali setahun. Waktunya terbatas. Dan yang paling berharga darinya bukanlah seberapa banyak konten yang kita lihat, tetapi seberapa dalam kita membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an menyentuh hidup kita.
Mungkin tahun ini, kita tidak perlu target yang terlalu tinggi. Cukup satu komitmen kecil: sebelum jari menggulir layar, marilah kita “paksa” tangan kita membuka mushaf lebih dulu. Setidaknya di bulan penuh berkah ini, biarkan mushaf menjadi kekasih yang senantiasa dirindukan.
Karena bisa jadi, yang paling kita butuhkan bukan informasi baru, melainkan ketenangan yang sudah lama menunggu untuk kita buka kembali. ***
Penulis: Nurul Khaeriah (Penelaah Teknis Kebijakan Diskominfo-SP Provinsi Sulsel)

