DEWASA INI masyarakat kontemporer tengah hidup dalam lanskap sosial yang cenderung diidentikkan oleh akselerasi teknologi informasi, intensifikasi komunikasi digital, serta fragmentasi identitas sosial. Alih-alih menghasilkan kohesi sosial yang kuat, situasi ini justru memunculkan gejala polarisasi yang semakin menukik tajam-baik pada basis politik, afiliasi ideologi maupun diferensiasi kelas ekonomi. Acap kali individu terperangkap dalam echo chamber digital yang mengukuhkan keseragaman dan menidurkan alteritas.
Sebagai upaya dalam membaca fenomena saat ini, urgensi peristiwa Isra Mikraj sekiranya dapat melampui batas-batas narasi teologis melalui pembacaan simbolik-analitik, bukan kausal-historis, dengan merelevansikan metafora sosiologis yang menawarkan kritik terhadap dislokasi makna dalam masyarakat modern.
Isra Mikraj dapat dijadikan tumpuan yang dapat merepresentasikan dialektika antara mobilitas horizontal dan elevasi vertikal—sebuah relasi yang krusial untuk memahami krisis sosial kontemporer.
Baca Juga: Koridor Kampus Unhas Kembali Dibuka, Bus Trans Sulsel Masih Uji Coba. Bagaimana Respons Mahasiswa?
Akselerasi Horizontal dan Krisis Kohesi Sosial
Akselerasi horizontal merupakan segmentasi fundamental masyarakat modernitas akhir (late modernity). Ini merujuk pada manuver mobilitas sosial, arus informasi, dan eskalasi relasi antara individu melalui teknologi digital.
Sayangnya, “media sosial” menghapus batas ruang, sementara “komunikasi instan” menghapus jeda waktu, dan “ekonomi platform” menghapus stabilitas ritme hidup. Sehingga kondisi ini perlahan mensimplifikasi jarak spasial dan temporal serta memungkinkan individu berinteraksi lintas batas secara simultan.
Dalam perspektif sosiologi, kondisi ini menciptakan ilusi keterhubungan total (hyper-connectivity). Kita terhubung secara teknis tapi belum tentu terhubung secara sosial dan eksistensial.
Percepatan atau akselerasi seperti ini jika tidak diimbangi dengan internalisasi nilai dan refleksi etis, riskan melemahkan kohesi sosial. Individu terperangkap dalam ritme kehidupan yang begitu cepat dan reaktif, sementara ruang kontemplasi dan komunikasi substantif secara langsung kian menyempit.
Fenomena echo chamber merupakan bukti konkret dari problem ini. Algoritma digital berfungsi sebagai mekanisme seleksi simbolik yang memvalidasi preferensi individu, menyempitkan horizon pemahaman, dan mengokohkan polarisasi identitas. Kondisi ini muncul karena algoritma digital tidak bekerja secara netral.
Baca Juga: Jalan 200 Km di Wilayah Tengah Sulawesi Selatan Mulai Dibangun, Dana Rp383 Miliar Cakup 4 Kabupaten
Algoritma beroperasi sebagai mekanisme struktural sosial baru yang secara tidak kasat mata membentuk preferensi, emosi, dan orientasi moral individu. Sementara itu, individu sebagai pengguna, kerap terjebak dalam pusaran logika algoritmik yang mereproduksi polarisasi.
Alhasil, perbedaan tidak lagi dipahami sebagai realitas sosial yang niscaya, melainkan dikonstruksikan sebagai ancaman terhadap stabilitas identitas, baik pada level individual maupun kolektif.
Alienasi, Anomie, dan Kehampaan Makna
Akibat terjadinya akselerasi horizontal, disaat yang sama peningkatan alienasi dan anomie sosial terjadi. Saat relasi sosial disederhanakan menjadi pertukaran simbolik yang instan dan instrumental, individu kehilangan keterikatan emosional dan moral atas komunitas. Alih-alih identitas sosial terbangun melalui proses reflektif yang kuat, justru tumbuh afiliasi simbolik yang cair dan mudah berubah.
Kesepian sosial, kekhawatiran berlebihan dan kecemasan tidak lagi secara langsung dapat dipahami sebagai masalah psikologis individual, melainkan gejala struktural masyarakat akibat disorientasi makna. Kehidupan masyarakat jadi padat aktivitas tapi miskin signifikansi. Individu atau manusia hadir di ruang sosial secara simultan, namun tidak sepenuhnya hadir secara eksistensial
Isra Mikraj : Dialektika Horizontal-Vertikal
Melalui pendekatan peristiwa Isra Mikraj, sekiranya menawarkan suatu kerangka simbolik yang kaya dalam menafsirkan krisis sosial. Dalam perspektif sosiologi agama, Isra Mikraj merepresentasikan dialektika antara dua dimensi kehidupan manusia, yakni horizontalitas sosial dan vertikalitas transendental.
Isra sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa- merupakan representasi dari dimensi horizontal kehidupan sosial. Terjadinya perjumpaan antara manusia, sejarah profetik kenabian, dan pengalaman pluralitas keagamaan.
Kondisi ini pada dasarnya menunjukkan kepada kita bahwa spiritualitas Islam, tidaklah bersifat asketik atau menarik diri dari dunia sosial, tetapi justru berakar pada realitas historis dan sosial itu sendiri.
Sementara, mikraj sebagai perjalanan vertikal menuju sang Ilahi, memberitahu kita akan pentingnya orientasi transendental sebagai fondasi etis kehidupan sosial. Ruang vertikal ini, hendak dimaksudkan sebagai sumber legitimasi atas nilai dan penyeimbang logika instrumental. Itulah kenapa tanpa peristiwa mikraj, peristiwa isra memungkinkan tereduksi menjadi mobilitas sosial yang kehilangan arah normatif.
Baca Juga: Ini 12 Satker Kemenag Sulbar Lolos Tahap Awal PZI, Siap Bersaing di Penilaian Lanjutan
Salat Sebagai Institusi Sosial dan Disiplin Egaliter
Salat, sebagaimana dalam mandat utama peristiwa Isra Mikraj, kenyataannya memiliki signifikasi secara sosiologis yang jauh melampaui dimensi ritual belaka.
Salat merupakan institusi sosial yang dari waktu ke waktu mereproduksi terwujudnya keteraturan dan disiplin tubuh-praktik salat di mana individu disusun dalam konfigurasi yang seragam, tunduk pada ritme waktu dan gerak yang sama.
Hal lain yang juga ditemukan dari salat adalah menumbuhkan kesadaran kolektif - menangguhkan sementara diferensiasi kelas, status sosial, dan akumulasi kapital simbolik.
Praktik salat menjadi ruang sosial dimana tak lagi dikenal adanya hierarki duniawi begitupun dengan relasi kuasa yang direduksi melalui keseragaman gestur dan orientasi.
Salat membebaskan subjek dari dominasi ego dan identitas semu, bersifat emansipatoris sebab mengarahkan subjek pada kesadaran akan keterbatasan diri serta kesetaraan ontologis sesama individu atau manusia.
Kondisi seperti ini secara terang menciptakan collective effervescene -individu larut dalam kesadaran bersama sebagai komunitas seiman. Situasi dan pengalaman seperti ini tidak hanya menguatkan keterikatan sosial, tetapi juga menanamkan etos kerendahan hati dan rasa empati dalam relasi sosial yang lebih luas.
Baca Juga: Bupati Polman Samsul Mahmud Lantik 21 Pejabat Eselon II. Ini Nama-Namanya
Salat merepresentasikan jika perbedaan identitas sosial tidak menegasikan kesamaan eksistensial. Dengan demikian, ini menjadi antitesis terhadap logika ekslusivisme identitas dan fragmentasi sosia yang diperkuat ruang digital.
Menuju Keseimbangan Horizontal-Vertikal
Isra Mikraj dalam tinjauan sosiologi terletak pada pemenuhan keseimbangan antara akselerasi horizontal dan kedalaman vertikal kehidupan sosial. Hadirnya teknologi yang hidup berdampingan dengan individu manusia dapat dipahami sebagai “buraq kontemporer” di mana segala bentuk pertukaran informasi dan mobilitas sosial bergerak begitu cepat.
Namun tanpa, kehadiran orientasi vertikal yang mumpuni, akselerasi demikian menyulut disintegrasi sosial dan krisis makna.
Salat, sebagai praksis vertikal, seyogyanya berfungsi sebagai mekanisme korektif atas akses modernitas saat ini. Salat mengembalikan manusia kedalam irama reflektif, kesadaran etis serta pengakuan akan pentingnya kesetaraan.
Olehnya, keseimbangan antara horizontal dan vertikal bukanlah penolakan terhadap kemajuan, melainkan pemenuhan integrasi antara rasionalitas teknologis dan kedalaman spiritual.
Isra Mikraj dalam kacamata sosiologi agama mengartikulasikan kerangka normatif sebagai upaya menghidupkan kohesi sosial dari situasi dunia yang bergerak begitu cepat tetapi terbelah secara sosial ini.
Isra Mikraj merupakan panggilan untuk bergerak maju tanpa kehilangan makna serta terhubung tanpa kehilangan kemanusiaan. Lebih jauh, Isra Miraj merefleksikan ulang arah perkembangan sosal kontemporer bahwa terjadinya polarisasi, alienasi, serta rapuhnya solidaritas tidak dapat disembuhkan melalui pecepatan teknologis, tetapi melalui pemulihan orientasi etis dan kesadaran eksistensial bersama.
Baca Juga: Prof. Lukman Arake Daftar Bakal Calon Rektor IAIN Bone, Tawarkan 7 Misi Besar
Menautkan antara kemajuan horizontal dan kedalaman vertikal dalam momentum Isra Miraj adalah jalan yang dimaksudkan untuk megobati ini semua.
Penulis: Ahmad Zaki M



