PERJALANAN saya ke Yogyakarta kali ini menghadirkan pengalaman yang melampaui sekadar kunjungan. Saya datang untuk mendampingi saudara yang mengikuti wisuda magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah momentum penuh haru dan kebanggaan. Namun, di balik kemegahan acara akademik itu, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih mendalam: nilai-nilai peradaban yang hidup dalam perilaku sosial masyarakat Yogyakarta, yang mencerminkan keseimbangan antara intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas.
Adab Ilmu dan Ketertiban Sosial di UGM Yogyakarta
Sejak memasuki kompleks kampus UGM Yogyakarta, suasana tertib dan damai terasa begitu kuat. Para wisudawan, dosen, dan keluarga tampak berbaur dengan tenang, saling menghormati, dan menjaga ketertiban tanpa perlu diawasi. Tidak ada suara keras, dorongan, atau keributan; yang ada hanyalah semangat kebersamaan yang santun dan penuh penghargaan.
Yang menarik perhatian saya adalah kondisi setelah acara wisuda berakhir. Baik di pelataran kampus maupun di dalam auditorium tempat acara berlangsung, hampir tidak ditemukan sampah berserakan. Tidak ada sisa makanan, bungkus minuman, atau remah snack di lantai. Petugas kebersihan pun tampak bekerja dengan ringan karena para tamu dan wisudawan sudah menjaga kebersihan sejak awal.
Lebih mengagumkan lagi, di tengah ribuan peserta dan tamu, tidak tampak antrian yang menyosor atau desak-desakan di pintu keluar. Semua berjalan dengan tertib, saling memberi ruang, dan penuh kesadaran. Gambaran ini bukan sekadar bentuk kedisiplinan, tetapi refleksi dari nilai adab yang berakar pada etika Islam: menghormati orang lain, menjaga kebersihan, dan menegakkan ketertiban sosial.
Baca Juga: UPT SPF SMPN 20 Makassar Gelar Workshop Deep Learning untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran
Dalam Islam, kebersihan merupakan bagian dari iman (al-nadhāfah min al-īmān), dan menghormati sesama adalah wujud nyata dari akhlaq karimah. UGM, dalam konteks ini, tidak hanya mencetak insan berilmu, tetapi juga memelihara tradisi keadaban yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Jejak Akhlak dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Yogyakarta
Di luar kampus, nilai-nilai itu terasa semakin kuat. Masyarakat Yogyakarta dikenal dengan keramahan dan kesopanannya yang khas. Setiap sapaan, senyuman, dan anggukan kepala bukan hanya kebiasaan sosial, tetapi ungkapan tulus dari penghargaan terhadap sesama manusia.
Perilaku seperti ini mencerminkan konsep adab sebagaimana dijelaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas: penempatan sesuatu pada tempatnya dengan penuh kesadaran moral dan spiritual. Nilai-nilai tersebut tampak hidup dalam keseharian warga Yogyakarta, menjadi bagian dari budaya yang diwariskan dan dijaga secara turun-temurun.
Kebersihan dan Ketertiban: Spirit Iman dalam Ruang Publik
Kebersihan dan keteraturan tidak hanya terlihat di kampus, tetapi juga di ruang publik kota. Jalan-jalan, taman, dan kawasan wisata tampak terjaga kebersihannya. Kesadaran menjaga lingkungan tumbuh bukan karena pengawasan, melainkan karena budaya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai iman dapat terinternalisasi menjadi etika sosial yang kuat—sebuah praktik keislaman yang diamalkan tanpa perlu banyak kata.
Baca Juga: Sistem Irigasi Lakejo Polman Tingkatkan Produksi Petani, Hasil Panen Naik Drastis Jadi Segini
Rasa Aman dan Kepercayaan Sosial
Nilai al-amānah (kejujuran dan tanggung jawab) juga tampak dalam kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta. Barang-barang dapat diletakkan begitu saja di tempat umum tanpa rasa khawatir akan hilang. Kepercayaan sosial (social trust) ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kesadaran moral yang tinggi. Dalam pandangan Islam, masyarakat yang aman dan saling percaya adalah ciri masyarakat madani—masyarakat yang beradab dan beriman.
Seni dan Kreativitas sebagai Ekspresi Spiritual
Selain itu, seni dan kreativitas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kota ini. Di berbagai sudut jalan, seniman tampil dengan karya yang memukau: musik, lukisan, dan pertunjukan yang penuh makna. Dalam Islam, seni dipandang sebagai ekspresi keindahan dan bentuk tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Yogyakarta dengan kekayaan seninya menunjukkan bagaimana kreativitas dapat hidup berdampingan dengan spiritualitas, melahirkan harmoni antara budaya dan nilai agama.
Menjaga Peradaban, Menjaga Jiwa
Pengalaman saya di Yogyakarta, terutama saat mendampingi saudara pada prosesi wisuda magister di UGM, menghadirkan pelajaran berharga tentang hakikat peradaban. Bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, kebersihan, kejujuran, dan kesantunan bukanlah entitas yang terpisah, melainkan satu kesatuan nilai yang membentuk tatanan kehidupan beradab.
Yogyakarta menunjukkan bahwa Islam dapat hadir dalam tindakan-tindakan sederhana dalam kesabaran menunggu giliran, dalam kebersihan yang dijaga tanpa disuruh, dalam senyum yang diberikan tanpa pamrih, dan dalam rasa aman yang lahir dari kejujuran. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Yogyakarta lebih dari sekadar kota budaya; ia adalah miniatur peradaban Islam yang hidup di tengah masyarakat majemuk.
Dengan perpaduan antara tradisi, ilmu, dan moralitas yang kuat, Yogyakarta layak disebut sebagai kota pendidikan dalam arti yang sesungguhnya—bukan hanya karena banyaknya universitas, tetapi karena di kota ini, setiap perilaku dan kebiasaan masyarakatnya mengajarkan tentang makna ilmu, adab, dan kemanusiaan.
Penulis: Hastuti, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dosen dan Peneliti Bidang Integrasi Keilmuan Prodi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar


