MEDIA dan jurnalis adalah 'tetangga yang baik'. Demikian tulis Don Heider, seorang profesor komunikasi yang banyak meneliti tentang media digital dan etika komunikasi, menerbitkan banyak artikel tentang topik penting, termasuk "Ethics and Online Journalism" (2000).
Saya menemukan naskahnya di researchgate, Jumat 8 Desember 2023, membacanya dan menuliskan kembali beberapa pemikirannya, mungkin saja relevan atau boleh jadi saya juga anda mengalaminya.
Setelah penelitian Heider sebelumnya menemukan bahwa ekspektasi dominan masyarakat terhadap pers adalah menjadi 'tetangga yang baik' dan bukan pengawas.
Penelitian itu bertujuan menentukan apa arti menjadi tetangga yang baik bagi berbagai segmen masyarakat. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa menjadi tetangga yang baik sangat dihargai oleh perempuan, orang Afrika-Amerika, dan Hispanik. Hispanik (bahasa Spanyol: Hispano) adalah istilah yang berakar dari kata Spanyol, orang dan budaya Spanyol.
Banyak dari kelompok masyarakat menginginkan lebih banyak cakupan pendidikan, kesehatan dan kedokteran, ilmu pengetahuan, serta seni dan budaya.
Kelompok masyarakat yang mengharapkan pers menjadi tetangga yang baik adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap kejahatan dan isu-isu sosial, dan televisi dipandang sebagai pihak yang paling mampu mengatasi permasalahan itu.
Baca Juga: KPU RI Umumkan Calon Anggota KPU 7 Kabupaten Kota Terpilih di Sulsel, Berikut Daftar Lengkapnya
Studi dilakukannya mengisi kekosongan dalam literatur empiris jurnalisme publik yang terutama berfokus pada opini jurnalis, konten proyek jurnalisme publik, dan dampak proyek jurnalisme publik terhadap publik.
Berbeda dengan sebagian besar literatur sebelumnya yang mengabaikan opini masyarakat mengenai praktik jurnalistik terkait dengan jurnalisme publik.
Heider menuliskan; penelitian kali ini menghubungkan ekspektasi masyarakat terhadap berita lokal sebagai tetangga yang baik dengan teknik yang melambangkan jurnalisme publik, yaitu kepedulian terhadap masyarakat, melaporkan orang dan kelompok yang menarik, memahami komunitas lokal, dan menawarkan solusi.
Baca Juga: 8 Tim Keseblasan Perebutkan Piala Bergilir Liga Rektor Antar Instansi UIN Alauddin Makassar 2023
Benarkah media lokal kita sudah menawarkan solusi, atau hanya sekadar menyampaikan adanya peristiwa?
Lokus penelitian di Amerika, membuat saya ragu apakah selera pembaca Amerika sama dengan Asia, bahkan apakah sama dengan Indonesia, sama dengan Sulawesi Selatan, atau sama dengan kota dimana kita semua berdiam.
Mari kita kembali ke masa kecil ketika masih di bangku sekolah, sudahkan para guru memberikan kita bekal wawasan tentang analisis kritis pada kebutuhan? Benarkah saat membaca berita kita saya dan anda, berupaya menelisik sebuah solusi, ataukah hanya menikmati peristiwanya.
Saya teringat pernyataan; pada umumnya pembaca berita hanya sampai pada bingkai diri, etika dan budaya termasuk kekuasaan yang membentuk watak kita.
Luciano Floridi, seorang filsuf dan profesor informasi yang banyak menulis tentang etika informasi dan komunikasi digital. Penulis buku "The Fourth Revolution: How the Infosphere is Reshaping Human Reality" (2014), menitikberatkan sudut pandang konsumen berita pada sensitifitas pembaca atau kepedulian pada lingkungan, masyarakat yang di dalamnya ada budaya.
Baca Juga: Masjid Hj Sitti Mang Milik Ustaz Dasad Latif Akan Jadi Markas Kader Ulama, Seperti Apa Konsepnya?
Secara etik mungkin juga saya hanya sampai pada kepedulian rasa kemanusiaan, tanpa pernah ingin bersusah payah melanjutkan nalar pada bagaimana mengatasi problem pemicu peristiwa. Saya teringat sepekan terakhir ini Sulsel diwarnai kasus pembunuhan sadis, benarkah pemerintah peduli?
Sudiang 9 Desember 2023
Zulkarnain Hamson
Direktur ZH Konsultan Jurnalisme & Media
