POJOKSULSEL, BANTAENG - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengenalkan cara sederhana mengolah Sampah organik rumah tangga melalui Gerakan Biopori di Kelurahan Bonto Langkasa, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng.
Program Biopori KKN Unhas di Bantaeng mengajak masyarakat memanfaatkan sisa makanan, daun kering dan sampah organik lainnya untuk dimasukkan ke dalam lubang atau pipa biopori.
Mahasiswa KKN Unhas tidak hanya memberikan edukasi. Mereka juga melakukan demonstrasi langsung agar masyarakat memahami cara membuat hingga merawat biopori di lingkungan rumah masing-masing.
Baca Juga: Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid Pegang Sapu di Pangkep, Geber Mas Sasar 4.003 Masjid
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan cara kerja biopori, manfaatnya bagi lingkungan serta tahapan pembuatan dan pemeliharaannya.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat di rumah.
Mahasiswa KKN Unhas berharap Gerakan Biopori menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong perilaku masyarakat yang lebih ramah lingkungan. Pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga dinilai dapat menjadi langkah awal menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Gerakan Biopori yang diperkenalkan mahasiswa KKN Unhas di Bonto Langkasa sekaligus mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait pengelolaan lingkungan dan pembangunan permukiman yang berkelanjutan.
Dari Bonto Langkasa, sampah organik yang selama ini dianggap sebagai limbah didorong untuk memiliki manfaat baru: mengurangi sampah sekaligus membantu menjaga lingkungan dan meningkatkan resapan air. ***




