POJOKSULSEL, GOWA - Acacia Energy bersama Portage Energy Group, perusahaan energi asal Kanada, menyatakan kesiapannya menanamkan investasi senilai lebih dari 80 juta dolar AS atau sekitar Rp1,3 triliun untuk membangun fasilitas pengolahan sampah modern (waste-to-energy) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Proyek tersebut akan mengubah sampah menjadi energi listrik dan karbon, sekaligus diproyeksikan membuka lebih dari 100 lapangan kerja.
Komitmen investasi tersebut mengemuka dalam rapat lanjutan yang dihadiri Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Gowa, Selasa (28/7/2026).
Rombongan investor dipimpin Direktur Perwakilan Indonesia Acacia Energy Muhammad Malik Setiawan, didampingi Co-Founder sekaligus Chief Commercial Officer (CCO) Portage Energy Group Stephen Akpakwu, Chief Executive Officer (CEO) Acacia Energy Jose Roy Borromeo, serta Chief Financial Officer (CFO) Acacia Energy Chuckie Borromeo.
Dalam pertemuan tersebut, Acacia Energy dan Portage Energy Group memaparkan kesiapan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern yang akan mengubah sampah menjadi energi listrik dan karbon. Pembahasan meliputi kebutuhan pasokan sampah, lokasi pembangunan, hingga dukungan Pemerintah Kabupaten Gowa terhadap realisasi investasi tersebut.
Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin mengatakan Pemerintah Kabupaten Gowa menyambut baik rencana investasi tersebut karena dinilai mampu menjadi solusi atas persoalan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi baru yang ramah lingkungan.
"Kemarin kita sudah menerima kunjungan mereka, kemudian hari ini ditindaklanjuti dengan rapat untuk mempresentasikan kesiapan membangun pengolahan sampah modern yang output-nya menjadi pembangkit listrik dan karbon. Tentu kami menyambut baik program ini," kata Darmawangsyah.
Meski demikian, Darmawangsyah mengatakan masih ada sejumlah hal yang perlu dimatangkan, terutama terkait ketersediaan bahan baku sampah. Saat ini produksi sampah di Kabupaten Gowa mencapai sekitar 400 ton per hari, sedangkan fasilitas yang direncanakan membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Gowa akan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah di sekitarnya, termasuk Kota Makassar dan Kabupaten Takalar, agar kebutuhan pasokan sampah tersebut dapat terpenuhi.
"Kami optimistis kebutuhan itu bisa dipenuhi. Yang pasti mereka sangat serius untuk memastikan pembangunan pabrik pengolahan sampah modern ini bisa terlaksana," ujarnya.
Selain memastikan ketersediaan bahan baku, Pemerintah Kabupaten Gowa juga telah menyiapkan lahan seluas sekitar delapan hektare. Lokasi tersebut telah ditinjau langsung oleh tim investor dan dinilai memenuhi persyaratan untuk pembangunan fasilitas waste-to-energy.
"Kebutuhan mereka sekitar delapan hektare dan kami sudah punya lahannya. Mereka juga sudah meninjau lokasi tersebut dan memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan," katanya.
Ia menambahkan, Pemkab Gowa akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup serta kementerian terkait lainnya agar proses perizinan dan realisasi investasi dapat berjalan lebih cepat.
"Tinggal kami membahasnya secara komprehensif, baik di internal pemerintah daerah maupun bersama pemerintah pusat," jelasnya.
Sementara itu, Co-Founder sekaligus Chief Commercial Officer (CCO) Portage Energy Group Stephen Akpakwu mengatakan Gowa dipilih sebagai lokasi proyek perdana perusahaan di Indonesia karena memiliki potensi besar dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah.
Menurut Stephen, Gowa memiliki peluang besar menjadi proyek percontohan karena potensi sampahnya cukup besar dan didukung komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan proyek tersebut.
"Gowa adalah yang pertama dan kami berharap ini menjadi yang pertama dari banyak proyek lainnya. Kami melihat peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus menghasilkan energi listrik," ujarnya.
Stephen menjelaskan fasilitas tersebut nantinya akan mengolah sampah dari Kabupaten Gowa maupun daerah sekitarnya menjadi energi listrik. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, perusahaan menargetkan pasokan sekitar 1.000 ton sampah per hari melalui kolaborasi dengan sejumlah pemerintah daerah di sekitar Gowa.
Investasi senilai lebih dari 80 juta dolar AS itu diperkirakan mampu menciptakan lebih dari 100 lapangan kerja tetap. Ia menegaskan konsep kerja sama yang ditawarkan tidak akan membebani anggaran pemerintah daerah karena sampah yang selama ini menjadi persoalan akan diolah menjadi energi yang memiliki nilai tambah.
"Sampah yang selama ini tidak memiliki nilai akan kami ubah menjadi listrik yang memberikan manfaat ekonomi bagi daerah," katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Perwakilan Indonesia Acacia Energy Muhammad Malik Setiawan menyampaikan apresiasi atas sambutan dan dukungan Pemerintah Kabupaten Gowa selama proses penjajakan investasi berlangsung. Ia menegaskan Acacia Energy bersama Portage Energy Group berkomitmen melanjutkan pembahasan hingga proyek tersebut dapat direalisasikan.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Gowa atas sambutan yang sangat baik dan keterbukaannya terhadap rencana investasi ini. Kami berharap kolaborasi antara Acacia Energy, Portage Energy Group, dan Pemerintah Kabupaten Gowa dapat segera terwujud sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah yang lebih modern, penyediaan energi bersih, dan penciptaan lapangan kerja," ujar Malik.




