POJOKSULSEL, MAKASSAR - Sektor perikanan Kabupaten Maros kembali mencuri perhatian menjelang penutup tahun. Hanya pada periode 1-20 November 2025, nilai ekspor produk perikanan olahan dari daerah ini menembus Rp54 miliar, capaian yang dinilai sebagai salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Informasi tersebut mengemuka saat peringatan Hari Ikan Nasional (Harkannas) 2025 yang dipusatkan di Lapangan Pallantikang, Jumat (21/11/2025). Acara yang diisi pameran, edukasi, dan kampanye konsumsi ikan itu turut dirangkaikan dengan pelepasan ekspor komoditas perikanan Kabupaten Maros.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan momentum Harkannas menjadi ruang untuk menunjukkan kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian daerah.
Baca Juga: Ikbal Ismail Ungkap Dua Kriteria Jemaah Haji 2026, Diminta Segera Melapor untuk Verifikasi Berkas
Ia menegaskan bahwa nilai ekspor tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan yang selama ini melakukan kegiatan pengolahan di Maros.
"Selain mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi ikan, hari ini kita juga melepas ekspor berbagai produk perikanan olahan dari Maros,” ujar Chaidir Syam.
Komoditas yang paling banyak dikirim ke luar negeri adalah tuna dan kakap merah, dua jenis ikan yang sejak lama menjadi andalan industri Maros.
Baca Juga: Lengkap Rincian Kuota Haji 2026 Kabupaten Kota di Sulsel, Tiga Daerah Dapat Jatah di Bawah 10 JCH
Produk tersebut dipasarkan hingga ke Amerika Serikat, Eropa, Malaysia, Cina, Korea, Singapura, Vietnam, dan Arab Saudi.
Produk lokal seperti bandeng tanpa tulang, bandeng asap, rumput laut, dan udang juga turut berperan dalam penguatan pasar ekspor.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) pemkab Maros, Muhisal, menyebut bahwa seluruh proses ekspor dilakukan melalui kontrol mutu yang ketat. Standar sanitasi, kelayakan proses, hingga kelengkapan dokumen menjadi perhatian utama.
Baca Juga: Guru PAI dari Sulbar Tembus Predikat Terbaik PPG UIN Alauddin Makassar, Ini Sosoknya!
"Kami memastikan ikan yang keluar benar-benar memenuhi standar ekspor. Perusahaan pengolah juga harus lolos verifikasi kelayakan,” kata Muhisal.
Saat ini, Maros memiliki 34 Unit Pengolahan Ikan (UPI) berstatus ekspor, terdiri atas 20 UPI ikan dan 14 UPI rumput laut. UPI tersebut mampu memasok sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan industri pengolahan di daerah.
Meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti perubahan regulasi negara tujuan ekspor, Maros masih memiliki keunggulan geografis. Kedekatan wilayah dengan bandara dan pelabuhan mempermudah rantai distribusi dan memungkinkan ekspor dilakukan beberapa kali dalam setahun.
Muhisal optimistis tahun depan nilai ekspor dapat meningkat. Ia menargetkan capaian bisa menyentuh Rp75 miliar jika produksi dan akses pasar terus diperkuat.
Peringatan Harkannas tahun ini mengusung tema “Hari Ikan untuk Generasi Emas 2045.” Kegiatan tersebut juga menampilkan pameran olahan ikan, lomba mewarnai, hingga kampanye makan ikan bersama yang melibatkan pelajar dan masyarakat umum. ***




