POJOKSULSEL, PAREPARE - Kota Parepare menjadi pilihan Balai Diklat Keagamaan Makassar, untuk menempatkan 40 peserta menjalankan studi lapangan pelatihan kepemimpinan administrator (PKA).
Alasan Balai Diklat Makassar menempatkan puluhan peserta PKA angkatan XIV di Kota Parepare, karena kemajuan pembangunan di kota yang dulu dikenal sebagai Bandar Madani itu sangat signifikan.
Pemkot Parepare selama kepemimpinan Taufan Pawe mampu berbenah dengan sangat cepat. Terlebih, Pemkot Parepare berupaya menghadirkan ikonik dengan memberi nama Habibie, Presiden ke-3 RI.
Baca juga Taufan Pawe Optimistis Kampung Moderasi Beragama di Kota Parepare Jadi Contoh di Indonesia
Kepala Balai Diklat Makassar, Juhrah mengatakan 40 peserta yang melakukan studi lapangan di Kota Parepare berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Masing-masing, dari Gorontalo, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Papua Barat, Papua, Maluku, Bali, Yogyakarta, NTT, Sulawesi Selatan, Parepare, Sulawesi Barat, Jakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Ambon dan Padang.
"Mereka hadir untuk melihat apa yang dapat ditiru bagi kemajuan daerahnya masing-masing," ungkapnya.
Ia menjelaskan,Kepala LAN Makassar juga memberikan rekomendasi supaya Balai Diklat Makassar melakukan studi lapangan di Kota Parepare.
"Maka tentu daerah tersebut memiliki kelebihan dibanding daerah lain," kata Juhrah.
Baca juga Taufan Pawe Pastikan Pelayanan RSUD Andi Makkasau Maksimal
Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Kota Parepare, Adriani Idrus menyampaikan apresiasi kepada para peserta Balai Diklat Keagamaan Makassar. Sebab, telah menjadikan Kota Parepare sebagai lokasi studi lapang.
"Selamat datang di Kota Cinta Habibie Ainun. Berbagai ikon kota telah dibangun dengan menggunakan nama Habibie,"katanya.
"Upaya menjadikan Kota Parepare sebagai Kota BJ Habibie bukan tidak memiliki alasan. Presiden RI ketiga ini adalah sumber inspirasi pembangunan," pungkas Adriani.
(***)




