POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kepala Kanwil Kemenag Sulbar, Adnan Nota, inspeksi mendadak Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamasa.
Tercatat dua KUA didatangi Adnan Nota di Kabupaten Mamuju, yaitu KUA Kalukku dan KUA Tabulahan.
Adnan Nota juga melakukan sidak dua KUA di Kabupaten Mamasa, yaitu KUA Buntu Malangka dan KUA Aralle.
Sidak ke KUA dulakukan Kepala Kanwil Kemenag Sulbar untuk memastikan kedisiplinan aparatur selama penerapan penyesuaian sistem kerja di bulan Ramadan.
Sidak menjadi momentum evaluasi kedisiplinan, khususnya terkait ketertiban kehadiran dan pelaporan pada jam kerja efektif.
Baca Juga: Ngabuburit Pengawasan Bawaslu Pangkep, Mardiana Rusli Singgung Ujian Eksistensi di Masa Non Tahapan
Adnan Nota menemukan beberapa ASN tidak berada di tempat, dengan sebagian telah menyampaikan keterangan sakit dan izin.
Ia menegaskan pentingnya penegakan disiplin serta pelaporan kehadiran secara tertib dan berjenjang sebagai bagian dari tanggung jawab profesional ASN.
“ASN harus taat dan tunduk pada aturan disiplin tanpa pengecualian. Setiap ketidakhadiran wajib dilaporkan sesuai mekanisme yang berlaku,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret penguatan akuntabilitas, Kanwil Kemenag Sulbar akan mengoptimalkan penerapan aplikasi e-SARAku (Elektronik Sistem Akuntabilitas Kinerja-ku) yang telah disosialisasikan pada 3 Maret 2026.
Aplikasi e-SARAku dirancang untuk mengukur kinerja pegawai melalui laporan kerja harian yang terintegrasi dengan pemberian Tunjangan Kinerja (Tukin).
Baca Juga: Pemprov Sulsel Jelaskan Penanganan Jalan Hertasning, Pekerjaan Tak Sesuai Spesifikasi Akan Dibongkar
Menurut Adnan Nota, implementasi e-SARAku menjadi instrumen penting dalam membangun budaya kerja profesional, transparan, dan terukur, sekaligus mendorong peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.
Di sela sidak, Kakanwil Kemenag Sulbar juga mengunjungi pilot project Masjid Ramah Musafir di Kecamatan Kalukku.
Program strategis Kementerian Agama ini menghadirkan masjid sebagai ruang singgah yang nyaman bagi para musafir, tanpa memandang latar belakang agama, yang membutuhkan tempat beristirahat saat dalam perjalanan.
Ia berharap masjid-masjid di sepanjang jalur lintas negara maupun jalur strategis lainnya dapat dikembangkan menjadi Masjid Ramah Musafir dengan melibatkan aktif KUA, pengurus masjid, dan partisipasi masyarakat.
“Program ini harus hadir sebagai layanan nyata, bukan sekadar simbol. Inilah wujud Kemenag yang berdampak bagi semua,” pungkasnya. ***




