POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kafilah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), ditetapkan sebagai juara umum Musabaqah Qiraatil Kutub atau MQK Nasional tahun 2025 yang digelar di Pesantren As'adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kafilah Jawa Tengah mengantongi 24 medali di MQK Nasional 2025, yaitu medali emas 10, medali perak 6, dan medali perunggu 5, Harapan I (2), dan Harapan II (1).
Pencapaian Kafilah Jawa Tengah di MQK Nasional ke-8 membawanya hattrick juara umum lomba membaca kitab kuning tingkat nasional. Sebelumnya juara di tahun 2017 dan 2023.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Warning SPPG Serap Pangan Lokal, Andi Sudirman Sulaiman Luncurkan Kebun Hortikultura
Piala juara umum diberikan Dirjen Pendidikan Islam Amin Suyitno kepada Kepala Bidang Pesantren pada kanwil Kemenag Jawa Tengah.
Sementara itu, Kafilah Provinsi Jawa Timur berada di posisi kedua. Disusul DI Yogyakarta urutan ketiga dan Sumatera Utara peringkat empat.
Pada urutan kelima ada Kafilah Provinsi Sulawesi Selatan. Lalu Jawa Barat di peringkat enam. Peringkat tujuh, delapan dan sembilan secara berturut-turut diraih oleh Sumatera Barat, Aceh, dan Kalimantan Selatan.
Sementara untuk kategori Ma’had Aly, juara umum diraih Ma’had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo. Pada urutan kedua dan ketiga adalah Ma’had Aly Lirboyo dan Ma’had Aly As’adiyah.
Seluruh juara mendapat medali, plakat serta uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi mereka dalam mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam dari Kitab Kuning.
Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said menegaskan bahwa MQK 2025 merupakan tonggak sejarah karena digelar bersamaan dengan MQK Internasional yang pertama. Ajang ini mengusung semangat pesantren Indonesia ke tingkat global.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Atensi Pembangunan Jalan Provinsi di Wajo, Proyek Ratusan Miliar Dikucur Hingga 2027
"Lebih dari sekadar apresiasi, MQK 2025 merupakan tonggak sejarah karena digelar bersamaan dengan MQK Internasional yang pertama. Ini adalah upaya kita bersama untuk mengusung semangat dan tradisi keilmuan pesantren Indonesia ke tingkat global, membuktikan bahwa pesantren adalah motor peradaban dunia," tegasnya.
***




