POJOKSULSEL, MAJENE - Ikatan Alumni Al Risalah Batetangnga (IKA Ribat) Kewilayahan Majene menggelar Dialog Publik bertajuk “Sumpah Pemuda dan Tantangan Identitas: Antara Agama, Adat, dan Nasionalisme”, di Café Neo Alternative, Sabtu (22/11/2025) malam.

Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WITA itu menghadirkan dua narasumber utama: Muhammad Ali Rusdi Bedong, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Risalah Batetangnga, dan Abba Tammalele, budayawan Sulawesi Barat. Forum berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa dan pemuda Majene yang memenuhi lokasi acara.

Dialog publik turut dihadiri cucu Imam Lapeo Suhuriah yang juga dosen STAIN Majene, dosen Unsulbar, penggiat budaya, serta alumni Al-Risalah dari berbagai angkatan.

Baca Juga: Kemenag Sulsel Tegaskan Soal Haji Furoda, Ikbal Ismail Sebut Tidak Benar Bayar Hari Ini Berangkat Tahun Ini!

Dalam pemaparannya, Abba Tammalele menyoroti pentingnya penguatan kearifan lokal Mandar dan budaya Sulawesi Barat di tengah tantangan modern.

Abba Tammalele juga mengungkapkan rendahnya budaya literasi mahasiswa berdasarkan riset sederhana yang ia lakukan.

"Enam bulan saya melakukan riset, dan tidak satu pun catatan buku yang dijadikan rujukan mahasiswa. Ini menunjukkan betapa rendahnya literasi kita hari ini," tegas Abba Tammalele dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan bahwa pemuda Sulbar perlu menjadikan tokoh seperti Imam Lapeo dan Baharuddin Lopa sebagai cermin integritas dan karakter.

Baca Juga: PWNU Sulsel Serukan Keteduhan Sikapi Dinamika Internal PBNU, Simak 4 Imbauan kepada Warga NU

Sementara itu, Muhammad Ali Rusdi Bedong menekankan bahwa adat, agama, dan nasionalisme adalah nilai yang saling menguatkan, bukan dipertentangkan.

"Jika ada yang mempertentangkan adat, agama, dan nasionalisme, berarti ia tidak memahami ruh masyarakat Sulawesi Barat. Budaya kita bukan hanya Mandar, tetapi juga Pattae dan berbagai komunitas adat lainnya," kata Muhammad Ali Rusdi Bedong.

Koordinator IKA Ribat Majene, Muhammad Azwan, mengapresiasi antusiasme peserta.

"Alhamdulillah acara berjalan lancar dan penuh manfaat. Antusias peserta luar biasa dan menunjukkan bahwa pemuda Majene siap menjadi motor penggerak diskursus budaya dan kebangsaan," ungkapnya.

Baca Juga: Mencari Ruhul Mudarris: Refleksi Hari Guru Nasional di Tengah Memudarnya Jiwa Pendidik

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung intens dan menunjukkan tingginya minat peserta terhadap isu identitas pemuda di tengah perkembangan sosial dan budaya Sulawesi Barat. ***