POJOKSULSEL, WAJO - Lingkungan Universitas As’adiyah Lapongkoda, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tampak berbeda. Ratusan santri bergegas menuju ruang-ruang lomba Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) sambil ditemani bisikan doa guru pendamping.
Suasana majelis lomba MQK pun penuh, mulai dari penyisihan Marhalah Ulya hingga semifinal Marhalah Ula dan Wustha.
Di balik wajah-wajah santri yang menenteng kitab kuning, ada cerita perjuangan panjang. Ada rasa tegang, cemas, sekaligus keyakinan yang menyala di MQK VIII dan MQK Internasional I di Wajo.
Salah satunya datang dari Filzah Zahrah Aqylah, santriwati kafilah tuan rumah As’adiyah Kabupaten Wajo. Mengenakan seragam hijau khas As'adiyah, ia duduk menunggu giliran. Nomor tampilnya: delapan. Majelis lombanya: Hadits Marhalah Wustha.
Baca Juga: Andi Arfiah Tasming Ikuti Jambore PKK Sulsel, Naoemi Octarina Tekankan Perkuat Kebersamaan Kader
“Deg-degan sekali, Kak,” ucapnya dengan suara pelan, seraya terus menatap kitab rujukan yang dibawanya.
Bagi Filzah, ini adalah pertama kalinya ikut MQK. Persiapan memang sudah dilakukan jauh hari, guru-guru di pesantren telah menuntun bagaimana membaca, memahami, dan mengupas isi kitab. Namun rasa gugup tak pernah bisa sepenuhnya hilang. Justru itulah tantangan sekaligus pengalaman berharga yang kelak akan menjadi cerita tersendiri di perjalanan belajarnya.
Cerita lain datang dari Alyah Aulia Razak, santriwati asal kafilah Sulawesi Selatan yang tampil di majelis Akhlak Marhalah Ulya. Meski sudah berbekal pengalaman di MQK Nasional VII tahun 2023 di Lamongan, rasa tegang masih saja hadir.
“Saya sudah fokus bimbingan sebulan terakhir, kitabnya dipelajari secara intensif, tapi tetap saja gemetar kalau sudah mau tampil,” tutur Alyah sembari tersenyum.
Baca Juga: HUT ke-80 TNI, Kodam XIV Hasanuddin Bagikan 4.500 Paket Sembako untuk Warga Makassar
Bedanya, jika dua tahun lalu Alyah masih di tingkat Marhalah Wustha, kali ini ia sudah naik jenjang ke Marhalah Ulya. Ia menyadari tantangan yang dihadapinya semakin berat.
“Kalau di Wustha, mungkin masih sebatas pemahaman dasar. Tapi di Ulya, penguasaan kitab harus lebih mendalam, cara menyampaikannya juga dituntut lebih matang,” ujarnya.
Di tengah ketegangan itu, suasana MQK justru semakin menguatkan ukhuwah. Santri dari berbagai penjuru nusantara, bahkan dari negara-negara sahabat, berkumpul di satu tempat dengan satu semangat: menghidupkan tradisi literasi pesantren. Tidak ada yang benar-benar berkompetisi untuk saling mengalahkan. Mereka hadir dengan tekad saling belajar, memperkaya pengalaman, dan menjaga warisan intelektual Islam.
Bagi Filzah dan Alyah, juga ratusan santri lainnya, MQK bukan sekadar lomba. Ia adalah ruang ujian mental, intelektual, sekaligus spiritual. Ada kebanggaan bisa berada di hadapan dewan hakim, membacakan dan menjelaskan teks kitab, lalu menyerap hikmah yang terkandung di dalamnya. ***




