POJOKSULSEL, MAROS - Dapur umum yang dibuka oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Maros untuk mendukung konsumsi Tim SAR, potensi SAR, dan relawan dalam operasi pencarian penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), resmi mengakhiri operasionalnya.
Dapur umum yang dipusatkan di Kantor Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, tersebut ditutup pada Sabtu pagi (24/1/2026), seiring dengan berakhirnya operasi pencarian dan evakuasi oleh Basarnas.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Maros, Andi Zulkifli Riswan Akbar, mengatakan dapur umum mulai beroperasi sejak Sabtu malam (18/1/2026) dan ditutup setelah seluruh penumpang serta kru pesawat berhasil ditemukan.
“Alhamdulillah, dengan berakhirnya masa pencarian penumpang dan bangkai pesawat oleh Basarnas hari ini, dapur umum yang kami buka di Kantor Kecamatan Cenrana juga resmi ditutup. Semua penumpang dan kru telah ditemukan,” ujar Andi Zulkifli Riswan Akbar dikutip rilis Humas Pemkab Maros.
Selama masa operasional, dapur umum melibatkan berbagai unsur, mulai dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), hingga staf Kecamatan Cenrana.
Baca Juga: Faisal Amir Jalani Uji Kelayakan Calon Anggota Ombdusman RI di DPR RI, Ini Visi Misi yang Diusung
Dinsos Maros menyiapkan sedikitnya sekitar 500 kilogram beras beserta lauk-pauknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para relawan dan petugas yang bersiaga di Posko Cenrana sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Bulusaraung untuk proses evakuasi.
Sejak pagi hingga malam hari, dapur umum memastikan ketersediaan makanan berat, kopi, susu, teh hangat, hingga gorengan yang menjadi penawar lelah sekaligus pembangkit semangat para petugas dan relawan yang berjibaku di medan ekstrem.
Di balik layar operasi SAR, para petugas dapur umum bekerja tanpa mengenal lelah. Sejak dini hari, mereka menyambangi Pasar Bengo dan Camba, bahkan mendatangkan suplai bahan makanan dari Kota Maros demi memastikan kebutuhan sarapan, makan siang, dan makan malam terpenuhi.
Di tengah cuaca dingin dan beratnya medan pegunungan, ketersediaan kopi hitam dan teh hangat terus dijaga, menjadi penguat solidaritas dan kesetiakawanan sosial dalam menghadapi duka bersama. ***




