POJOKSULSEL, POLEWALI MANDAR - Pesantren Nuhiyah Pambusuang kembali menggelar prosesi penamatan santri dari tiga jenjang pendidikan sekaligus, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA).
Sebanyak 161 santri resmi ditamatkan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Pesantren Nuhiyah Pambusuang, Sulawesi Barat, pada 18 Mei 2026.
Rincian santri Pesantren Nuhiyah Pambusuang yang mengikuti prosesi penamatan, yaitu , 36 santri dari MI, 80 santri dari MTs, dan 45 santri dari MA.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Barat H. Syamsul Samad.
Ketua panitia, Khairunnisah, menyampaikan bahwa kegiatan penamatan ini tidak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi antara orang tua santri, para alumni, dan pihak pesantren.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Ungkap Update Pembangunan Jalan MYP, Ada Ruas Capai 78 Persen
Ia juga menegaskan bahwa kesuksesan acara tidak lepas dari kerja sama seluruh panitia, khususnya para guru muda di lingkungan Pesantren Nuhiyah.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang, Annangguru Bisri, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Annangguru Bisri menegaskan kembali posisi Pesantren Nuhiyah sebagai salah satu pesantren tertua di Sulawesi Barat yang telah banyak berkontribusi dalam melahirkan ulama dan tokoh agama, termasuk di antaranya Imam Lapeo dan Annangguru Saleh.
Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan motivasi kepada para alumni agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan tetap menjaga nilai-nilai keilmuan pesantren.
Dari unsur pemerintah, Syamsul Samad menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa.
Baca Juga: Satu Lagi Prodi IAIN Parepare Raih Akreditasi Unggul, Kado di Awal Kepemimpinan Prof Darmawati
Ia menyebut alumni pesantren, termasuk Nuhiyah Pambusuang, telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dalam pembangunan daerah di Polewali Mandar dan Sulawesi Barat secara umum.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan dukungan terhadap pesantren setiap tahun, termasuk bantuan untuk kebutuhan santri serta rencana pembiayaan pendidikan satu orang santri hingga ke perguruan tinggi.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Balanipa, Ustaz Da’amin, yang hadir mewakili Kementerian Agama Polewali Mandar, memberikan pesan dan nasihat kepada para santri.
Dalam penyampaiannya yang kental dengan bahasa Mandar klasik, ia mendorong para alumni untuk tetap sabar dan istiqamah dalam melanjutkan pendidikan, khususnya ke jenjang perguruan tinggi.
Dari unsur keagamaan, Ketua MUI Kabupaten Polewali Mandar, KH Abd Syahid Rasyid, memimpin doa sekaligus memberikan refleksi sejarah perjalanan keilmuan di Pambusuang.
Ia menyinggung peran besar para ulama seperti KH Abdurrahman Fattah atau Annangguru Mamang, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan pendidikan kitab kuning di wilayah tersebut.
Menurutnya, banyak kader ulama yang lahir dari tradisi keilmuan tersebut dan kini melanjutkan peran di berbagai bidang keagamaan di Sulawesi Barat. ***




