POJOKSULSEL, MAROS - Hutan karst Bantimurung Bulusaraung begitu ramai, Sabtu (25/10/2025). Ratusan pelari lintas alam menembus jalur bebatuan dan lembah hijau dalam ajang Bantimurung Jungle Run 2025.

Bantimurung Jungle Run 2025 menjadi puncak perayaan HUT ke-21 Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) yang jatuh pada 18 Oktober lalu.

Mengusung tema “Pelibatan Aktif Masyarakat dalam Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melalui Wisata Berkelanjutan”, Bantimurung Jungle Run 2025 memadukan olahraga, konservasi, dan wisata alam dalam satu napas.

Sebanyak 650 peserta ikut ambil bagian. Tak hanya pelari profesional, tapi juga komunitas pecinta alam, pelajar, hingga masyarakat lokal.

Baca Juga: Film Badik Tayang 30 Oktober, Kisahkan Kehormatan dan Cinta dalam Bingkai Budaya Lokal

Mereka menempuh rute 8 kilometer melintasi tebing dan lembah karst, lanskap ikonik dari kawasan yang masuk dalam Geopark Maros–Pangkep.

Dengan slogan khas, “Katte Lari, Romang Apakabaji” (berlari di hutan untuk menyembuhkan diri), kegiatan ini mengajak masyarakat menikmati keindahan alam sambil menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan.

“Kami ingin masyarakat bukan hanya menikmati alam, tapi juga ikut menjaganya,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Tutut Heri Wibowo

Lebih dari sekadar olahraga, Bantimurung Jungle Run 2025 menjadi simbol kolaborasi antara pengelola kawasan, komunitas lokal, dan berbagai pihak dalam menjaga kelestarian alam.

Baca Juga: Isuzu Festival 2025 Manjakan Pelanggan dengan Cashback dan Paket Ekstra Purna Jual

Ajang ini juga dimanfaatkan sebagai media promosi wisata dan edukasi konservasi, sekaligus menguatkan peran masyarakat sebagai penjaga keanekaragaman hayati Bantimurung Bulusaraung.

Sementara itu, Kepala Dispora Sulsel, Suherman menyampaikan bahwa Pemprov Sulsel mendukung penuh kegiatan keolahragaan yang menyehatkan masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi wisata daerah.

“Melalui Bantimurung Jungle Run, kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di momen peringatan HUT Balai, tetapi dapat menjadi agenda rutin. Misalnya, dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk menggerakkan masyarakat berolahraga sambil menikmati keindahan alam geopark kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, ajang ini tidak sekadar berorientasi pada kompetisi, melainkan juga pada upaya membangun kesadaran ekologis dan memasyarakatkan olahraga di alam terbuka.

“Antusias masyarakat sangat luar biasa, lebih dari enam ratus peserta ikut ambil bagian. Ini sekaligus menjadi promosi wisata yang efektif untuk Maros dan Sulawesi Selatan,” tutur Suherman.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menegaskan komitmennya untuk terus menjadi kawasan konservasi yang lestari, bermanfaat bagi masyarakat, dan menjadi destinasi wisata alam unggulan di Sulawesi Selatan.

***