POJOKSULSEL, TORAJA UTARA - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi pengelolaan limbah berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Lembang Benteng Ka'do, Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara.

Melalui program bertema pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, mahasiswa KKN Unhas tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mengajak warga mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan mahasiswa KKN Unhas diawali dengan sosialisasi penerapan prinsip 3R sebagai upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Baca Juga: Tasming Hamid Ingin UMI Perkuat Peran di Parepare, Sinergi Pendidikan dan Pengembangan ASN Jadi Prioritas

Dalam sosialisasi tersebut, warga diperkenalkan pada pentingnya memilah dan memanfaatkan kembali limbah yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan sekam padi menjadi briket. Selama ini limbah sekam padi di wilayah tersebut umumnya dibakar sehingga menimbulkan polusi udara.

Melalui pendampingan mahasiswa, sekam diolah melalui proses karbonisasi sebelum dicetak menjadi briket yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, Dispusarsip Sulsel Sulap Perpustakaan Jadi Arena Belajar Sains untuk Siswa SD

Selain itu, mahasiswa KKN-T 116 Unhas juga mengembangkan pelatihan pembuatan lampu hias berbahan bambu.

Material yang melimpah di Lembang Benteng Ka'do itu diolah menjadi produk kerajinan bernilai estetika yang berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.

Program tersebut diharapkan mampu mendorong tumbuhnya usaha mikro berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat identitas Lembang Benteng Ka'do sebagai desa wisata dengan produk kerajinan khas.

Baca Juga: 42 Kepala Subdirektorat Unhas Resmi Dilantik Juli 2026, Ini Nama-Namanya

Mahasiswa KKN-T 116 Unhas berharap program pengelolaan limbah melalui pembuatan briket sekam padi dan lampu hias bambu dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri setelah masa pengabdian berakhir. ***