POJOKSULSEL, MAKASSAR - Panitia mengumumkan juara Qasidah Kolaborasi Festival Seni Budaya Islam pada ajang Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis Nasional (STQH Nasional) XXVIII tahun 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Juara 1 Qasidah Kolaborasi Festival Seni Budaya Islam adalah Provinsi Jawa Timur. Grup MAN Satoe Voice asal Jatim unggul atas peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Juara 2 adalah kelompok Bismillah dari Bali. Sementara itu grup Salten asal Banten juara 3 Qasidah Kolaborasi Festival Seni Budaya Islam. Harapan 1 diraih oleh Hidayatullah Insan dari Kalimantan Tengah.
Panitia menetapak empat kategori penilaian utama pada lomba Qasidah Kolaborasi Festival Seni Budaya Islam. Yakni vokal (30 persen), aransemen (30 persen), penampilan (20 persen), dan adab (20 persen).
Baca Juga: Wagub Sulsel Imbau Warga Tanam Cabai, Lawan Inflasi dari Pekarangan Hingga Potensi Cuan
Unsur penilaian tersebut mencerminkan keseimbangan antara kemampuan teknis dan etika, sehingga peserta tidak hanya dinilai dari keindahan suara, tetapi juga ketulusan ekspresi dan kesopanan dalam berpenampilan.
Panitia juga memberikan penghargaan khusus kepada peserta dengan penampilan kearifan lokal terbaik kepada Sulawesi Tenggara. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas upaya daerah dalam menggabungkan budaya lokal dengan semangat Islam dalam seni pertunjukan.
Qasidah Kolaborasi Festival Seni Budaya Islam menjadi wadah ekspresi seni yang menggabungkan unsur spiritual, kreativitas, dan kearifan lokal.
Kegiatan ini merupakan agenda rutin Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama. Dalam pelaksanaannya, peserta dari berbagai daerah menampilkan karya-karya terbaik yang sarat pesan keislaman dan nilai budaya.
Baca Juga: 25 Perusahaan Sediakan 2 Ribu Lowongan di Job Fair Disnakertrans Sulsel 2025
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengapresiasi semangat para peserta. Ia menyebut, setiap penampilan menjadi bukti bahwa seni dan dakwah bisa berjalan beriringan.
Menurut Ahmad Zayadi, festival ini bukan hanya ajang perlombaan, tetapi ruang ekspresi dan kolaborasi yang memperlihatkan kekayaan budaya Islam di Indonesia.
"Seni dan dakwah harus berjalan beriringan, saling menguatkan dalam membangun karakter umat,” ujar Zayadi dikutip laman Kemenag RI.
Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam, Wida Sukmawati, menjelaskan, para peserta yang tampil di tingkat nasional telah melalui proses seleksi berjenjang.
"Setiap kabupaten mengirimkan pesertanya ke provinsi untuk dinilai yang terbaik. Dari situ, dipilih peserta yang mewakili daerahnya di ajang perlombaan tingkat pusat," ujar Wida.
Wida menilai, Lomba Qasidah Kolaborasi bukan sekadar ajang adu kemampuan, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antarprovinsi melalui seni.
"Kami ingin menumbuhkan semangat kolaborasi dan melestarikan budaya Islam Indonesia yang kaya warna dan makna," tuturnya.
Menurut Wida, festival ini juga menunjukkan bahwa kesenian Islam mampu menjadi ruang interaksi positif dan media dakwah yang sejuk serta kreatif.
Baca Juga: TKD Parepare Dipangkas Rp101 Miliar, Amarun Agung Hamka Buka Suara Soal Realisasi Program Wali Kota
"Dengan memadukan unsur modern dan tradisional, peserta tidak hanya menampilkan karya musikal, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam,” pungkas Wida. ***




