POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kafilah Sulawesi Selatan (Sulsel) sukses menempati peringkat lima pada gelaran Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional (MQKN) atau MQK Nasional ke-8 tahun 2025 di Pesantren As'adiyah Kabupaten Wajo, Sulsel.
Sebanyak delapan juara dikoleksi oleh Kafilah Sulawesi Selatan di ajang MQK Nasional 2025. Rinciannya adalah satu medali emas, empat medali perak, satu medali perunggu, serta masing-masing satu Harapan II dan III di MQKN.
Medali emas Kafilah Sulawesi Selatan di MQK Nasional atau MQKN 2025 disumbang oleh tim debat Bahasa Arab Putri, yaitu Azizah Putri Firdani, Nur Aisyah Awwaliyah, dan Dini Fahirah.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Warning SPPG Serap Pangan Lokal, Andi Sudirman Sulaiman Luncurkan Kebun Hortikultura
Sementara, tim debat Bahasa Arab Putra membawa pulang medali perak atas nama Muh Adrian A, Lintang Samudra Kemal Tamsir, Mu'tazim Imran.
Medali perak lainnya datang dari cabang lomba Nahw Wustha atas nama Ahmad Furqan. Cabang lomba Tauhid Ulya (Pi) atas nama Fatimah Mufidah. Cabang lomba Tauhid Uly (Pa) atas nama Ziyadul Khair.
Medali perunggu dipersembahkan oleh Alyah Auliyah Razak pada cabang lomba Akhlak Ulya (Pi). Muh Rifqi Alwan Arsam juara Harapan II Hadits Wustha (Pa) dan Eldhiya Al-Maqassary Ilham juara Harapan III Nahwu Ula (Pa).
Sementara itu, Kafilah Provinsi Jawa Tengah (Jateng), ditetapkan sebagai juara umum MQK Nasional tahun 2025.
Kafilah Jawa Tengah mengantongi 24 medali di MQK Nasional 2025, yaitu medali emas 10, medali perak 6, dan medali perunggu 5, Harapan I (2), dan Harapan II (1).
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi tinggi atas pencapaian tersebut.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Atensi Pembangunan Jalan Provinsi di Wajo, Proyek Ratusan Miliar Dikucur Hingga 2027
“Alhamdulillah, ini adalah hasil kerja keras, doa, dan komitmen seluruh kafilah, pembina, serta dukungan dari pesantren-pesantren kita. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama Sulawesi Selatan, tapi juga mengharumkan dunia pesantren nasional,” ujarnya.
Ali Yafid menilai, saat ini pengetahuan dan pemahaman santri terhadap kitab kuning juga sudah merata, tidak ada dominasi yang ditunjukkan kafilah tertentu, tambahnya.
Ia berharap capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh santri dan pesantren di Sulawesi Selatan untuk terus meningkatkan mutu kajian kitab kuning serta penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.
“Kita ingin pesantren menjadi pusat keilmuan dan peradaban Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan klasiknya,” tambahnya. ***




