POJOKSULSEL, MAKASSAR - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengibaratkan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) sebagai anak tangga pertama untuk kembali mewujudkan kejayaan peradaban Islam, seperti yang pernah dicapai pada masa Khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Nasaruddin Umar menggambarkan, pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai langkah awal untuk membaca kitab-kitab kuning (turats). MQK adalah ajang untuk memperlombakan pembacaan turats.
"Jadi saya anggap ini sebagai anak tangga pertama menguasai bahasa Arab. Buku-buku itu tertulis dalam bahasa Arab," kata Nasaruddin Umar saat membuka MQK Nasional VIII dan MQK Internasional di Pesantren As'adiyah Macanang, Kabupaten Wajo, Sulsel, Kamis (2/10/2025).
Baca Juga: Puluhan Remaja Diamankan Saat Pesta Miras, Polisi Tangkap Begal Pakai Samurai
Ia mengatakan, anak tangga selanjutnya adalah harus mampu menjadi musyarrif (penyelidik) kitab-kitab turats.
"Pemberian anotasi, catatan pinggir terhadap karya-karya terdahulu," ujarnya.
Anak tangga ketiga untuk mewujudkan Baitul Hikmah yaitu harus mampu menjadi muallif atau penulis, pengarang, maupun penyusun sebuah karya.
Baca Juga: Pengurus ISKI Sulsel Didukung Kalangan Gen Z
Ia mengatakan, tiga anak tangga untuk mewujudkan Baitul Hikmah akan dirintis di Pesantren As'adiyah.
Pada kesempatan yang sama, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa MQK bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah silaturahmi ulama, santri, dan akademisi lintas negara.
"Merawat lingkungan, dan menjaga perdamaian adalah tema kita. Kaitannya dengan perubahan iklim dan persoalan perang yang harus segera diakhiri," kata Menag Nasaruddin Umar.
Baca Juga: Rektor IAIN Parepare Prof Hannani Lantik Delapan Ketua Prodi, Ini Nama-Namanya
“Jika perang menelan 67 ribu korban jiwa per tahun, maka perubahan iklim telah merenggut hingga empat juta jiwa per tahun. Ini jumlah yang sangat besar dan harus menjadi perhatian kita," tuturnya.
Perubahan iklim yang terjadi, lanjut Menag, disebabkan karena adanya perilaku manusia yang tidak sepantasnya dalam memperlakukan alam. "Di sinilah perlunya bahasa agama mengambil peran," kata Menag.
Di MQK Internasional ini, Menag berharap pembahasan ajaran-ajaran agama tentang menjaga alam dapat dilakukan. “Mari kita eksplorasi ajaran turats tentang pelestarian lingkungan," ujar Menag.
"Kini saatnya Kemenag mensponsori apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni kerjasama antara manusia, alam, dan Tuhan,” lanjutnya.
Menag juga menegaskan, MQK Internasional adalah diplomasi budaya pesantren untuk meneguhkan Islam rahmatan lil-‘alamin di mata dunia.
“Pesantren adalah poros perdamaian. Kita ingin menunjukkan bahwa Islam Indonesia tumbuh dengan dakwah yang ramah, penuh persaudaraan, dan menghormati budaya,” jelasnya.
***




