POJOKSULSEL.com, MAROS - Pengolahan jagung menjadi berbagai panganan menarik dapat menjadi solusi untuk mengatasi melimpahnya hasil pertanian petani. Hal ini menjadi produk inovatif dan bernilai tambah bagi masyarakat dan menjadi peluang bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Bersama Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskopurindag) Kabupaten Maros dengan Universitas Hasanuddin melalui program kemitraan Kedaireka menggelar Pelatihan dan Bimbingan Pengolahan berbahan Jagung Sosok Pratana (JSP), untuk pelaku usaha UMKM.
Kegiatan ini digelar di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadau (PLUT)dan Sentrimas Diskopurindag jalan Gladiol, Turikale Maros Rabu (6/12/2023).
Turut hadir dalam pelatihan ini Bupati Maros, Chaidir Syam, yang didampingi Kadis Kopurindag Maros, Towadeng, Tim pendamping program kemitraan Unhas - Kedai reka Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta dan Prof. Dr. Abu Bakar Tawali, Kepala bidang Industri Diskopurindag Maros, Hj Idawati Sukiman, serta 70 mitra pelaku UMKM binaan Kopurindag Maros menjadi peserta pelatihan.
Bupati Maros mengatakan program kemitraan Unhas - Kedaireka dengan Pemkab Maros merupakan outpun dari hasil kolaborasi Teknologi Pertanian tanaman jagung dari Kemitraan Kedaireka.
"Lahan pertanian tanaman jagung memang terbilang luas dan banyak tumbuh di kabupaten Maros ini. Hampir setiap petani maupun pemilik lahan memilih menanam jagung karena muda tumbuh," ujar Bupati Maros Chaidir Syam.
Namun tanaman jagung yang ditanam petani rata rata untuk komsumsi pakan ternak. Hal yang dihadapi petani jagung adalah belum adanya upaya dan pengembangan yang baik dalam usaha diversifikasi produk olahan jagung yang berdaya jual tinggi dan bernilai ekonomis.
Baca Juga: Buka Pertemuan Temu Kader PKK, Bupati Maros Sebut PKK Membantu Penurunan Angka Stunting
"Kita berharap masyarakat atau petani mengenal teknologi pengolahan tersebut. Sebagian masyarakat belum mengetahui nilai gizi jagung. Padahal jangung bisa menjadi pengganti beras atau nasi yang memiliki gizi yang tinggi," terangnya.
Tim pendamping program kemitraan Unhas - Kedai reka, Prof. Dr. Ir. Meta Mahendradatta, mengungkapkan sebagai lembaga pendidikan tinggi memiliki komitmen yang tinggi terhadap persoalan pangan nasional dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat atau petani yang ada diKabupaten Maros.
Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Unhas dengan Pemerintah Kabupaten Maros.
Kegiatan pelatihan ini dimaksudkan sebagai bagian dari pengembangan teknologi dan inovasi khususnya dibidang pangan dalam hal ini jagung.
"Pelatihan ini dilakukan untuk mendorong skill dan pengetahuan masyarakat petani sehingga produksi jagung dapat memiliki nilai tambah dalam hal diversifikasi inovasi jagung, khususnya jagung," ungkap Meta Mahendradatta.
Penggunaan jagung sosoh pratanak (JSP), adalah jagung yang telah diproses sedemikian rupa sehingga di dalam pemasakan selanjutnya untuk membuat produk siap saji hanya memerlukan waktu yang singkat.
"Dengan menggunakan JSP, pembuatan bassang (bubur khas Makassar) dan yang selama ini memerlukan waktu 18-24 jam dapat dipersingkat menjadi 10-30 menit. Selain sebagai bahan baku untuk pembuatan bassang, JSP dapat juga digunakan untuk membuat sup jagung, bubur jagung, binte biluhuta, bose (makanan khas NTT) dan makanan berbasis jagung lainnya," tutur Meta Mahendradatta.
Proses pembuatan JSP melalui tahapan penyosohan jagung, perendaman dan pemasakan, pengeringan, dan Pengemasan dan lainnya.
Sementara Kadis Kopurindag Maros, Towadeng, keterlibatan UMKM dalam pelatihan dan Bimbingan Pengolahan berbahan Jagung Sosok Pratana (JSP) ini karena sebagian pelaku umkm memiliki produk olahan dari jagung.
"Pengembangan olahan jagung yang baik dalam usaha jagung yang berdaya jual tinggi dan bernilai ekonomis. Selain transfer knowledge dengan para pelaku usaha kami juga memberikan motivasi dalam bentuk bantuan alat masak kepada pelaku usaha UMKM, semoga ini mampu memberikan peluang kepada pelaku usaha khususnya produk olahan jagung," ucap Towadeng. ***



