Paket TP-Pangerang Unggul Diatas Kertas, LSI Bilang Begini

Taufan Pawe mengumumkan Pangeran Rahim sebagai wakilnya dalam Pilkada Parepare 2018 saat jumpa pers di di Kenari Hotel, Jumat (15/12/2017). | POJOKSULSEL - HAERUL AMRAN

Taufan Pawe mengumumkan Pangeran Rahim sebagai wakilnya dalam Pilkada Parepare 2018 saat jumpa pers di di Kenari Hotel, Jumat (15/12/2017). | POJOKSULSEL - HAERUL AMRAN

POJOKSULSEL.com, PAREPARE – Pertarungan antara kandidat ‎pasangan Calon Wali Kota dan Wakilnya, di Pilkada serentak mendatang menarik perhatian publik, khususnya di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di Kota bertajuk kota peduli tersebut akan mempertontongkan geliat pertarungan antara dua rivalitas seorang tokoh, dimana Walikota Parepare, HM. Taufan Pawe, akan berhadapan-hadapan dengan koleganya di Pemerintahan, Faisal Andi Sapada.

HM. Taufan Pawe, yang berpaket dengan politisi senior Provinsi Sulsel, Pangerang Rahim, secara analisa politik cukup diuntungkan, karena posisinya sebagai Petahana terlebih mereka diusung oleh empat partai besar, yakni Golkar, Demokrat, Gerindra, dan PDIP.

Sementara sang rival, Faisal Andi Sapada, yang didampingi oleh tokoh muda, Asriadi Samad, hanya mengandalkan tim pemenangan yang militan serta dukungan dari partai pengusung, yaitu PKS, Nasdem, PBB, PKB dan partai non parlemen.

Atmosfir yang berbeda dalam sejarah Pilkada di Parepare, serta tensi politik ‎yang cukup panas itu, membuat kalangan pengamat angkat bicara.

Pengamat politik, Muhammad Ali, mengatakan, paket Taufan Pa‎we-Pangerang Rahim unggul diatas kertas.

Dengan alasan, berdasarkan rekomendasi resmi yang di publis oleh partai politik (Parpol) masing-masing pengusung, paket TP2R mendapat dukungan 64 persen atau 16 kursi DPRD, sementara lawanya FAS-ASS hanya mendapat dukungan tujuh kursi atau 28 persen.

“Jadi, fakta itu kita bisa menganalisa bahwa kekuatan Petahana cukup besar dan lebih unggul ‎dibanding lawannya. Unggul diatas kertas,”ucap mantan komisioner KPUD Parepare, ini.

Namun, kata dia, hal itu bukan sebuah indikator menuju kemenangan. Menurut dia, dukungan parpol yang signifikan tidak menjamin dan belum dapat dipastikan akan kemungkinan realita yang terjadi.

Bisa saja, lanjutnya, pasangan yang didukung minim partpol malah unggul di akhir pertarungan.

“Contohnya di pilkada Kabupaten Takalar, petahana tumbang dari penantangnya. Disana skenarionya head to head juga,”katanya.

Dia mengungkapkan, TP dan FAS memilki masing-masing keunggulan. Kedua figur itu punya populeritas yang cukup tinggi karena merupakan kolega di Pemerintahan, meskipun kemudian akhirnya pecah kongsi setelah 6 bulan sistem berjalan.

Ali menambahkan, partai politik juga memiliki pengaruh dalam meningkat suara paslon. Hanya saja, menurut dia itu tidak signifikan karena secara umum dalam pilkada, masyarakat lebih cenderung ke figur bukan Parpol pendukung.

“‎Parpol punya pengaruh, namun tidak besar karena ini lebih kepada pertarungan figur. Tergantung program yang ditawarkan dan kesolidan tim pemenangan,”tambah Ali.

Ditempat lain, koodinator analisis stretegi Lembaga Survey Indonesia (LSI), Rasmuddin, mengungkapkan, pilkada Parepare berbeda jauh dengan Pilkada Takalar. Di Kabupaten Takalar, kata dia, survey incumbant terus merosot jelang pencoblosan. ‎Kepuasan masyarakat terhadap calon Petahana hanya di bawah 50 persen.

“Beda dengan di Parepare, elektablitas incumbant terus naik pasca pendaftaran. Berdasarkan survey tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan pak Taufan, diatas 80 persen. Tinggal bagaimana tim kemudian mempertahankan itu,”katanya.

Secara kalkulasi politik berdasar sejumlah lembaga survey, kata Rasmuddin, pilkada 2018 ini masih direbut oleh Taufan Pawe.

“Data dan fakta jelas, Petahana perkasa di Parepare‎. Masyarakat masih cenderung ke pak Taufan karena melihat hasil pembangunannya selama memimpin,”tandas Rasmuddin.

(haerul amran)



loading...

Feeds