Negatif Kampanye Marak ke NA, Pengamat Singgung Soal Kualitas Demokrasi

Prof Nurdin Abdullah

Prof Nurdin Abdullah

POJOLSULSEL.com, MAKASSAR – Strategi memainkam kampanye negatif jelang Pilgub 2018 makin semarak. Tak ayal model kampanye ini bahkan sampai bicara soal ranah pribadi para lawan politiknya.

Salah satunya yang dialami oleh Bakal Calon Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat mengikuti proses pemeriksaan kesehatan di PCC RS Wahidin Sudirohusodo yang berlangsung selama beberapa hari lalu.

Di waktu yang sama, kampanye negatif bagi Nurdin Abdullah soal kesehatannya makin dikencangkan, salah satunya dengan membangun wacana penyakit kanker pita suara dan pemeriksaan kesehatan NA di Jepang yang seoalah mengarah pada ketidaklayakan untuk bertatung di Pilgub Sulsel.

Menanggapi hal di atas, pengamat politik Andi Luhur Prianto berpendapat, bahwa sikap black campaign adalah sesuatu yang tidak baik bagi perkembangan demokrasi di Sulawesi Selatan.

Bahkan Andi Luhur mengatakan, jika model kampanye yang seperti ini terus dikembangkan, maka ini akan merubah para pemilih kepada Paslon pelaku Black Campaign, dari simpati mrnjadi anti pati.

“Black campaign dan negatif campaign sebenarnya berbeda. Tapi dua – duanya nya tidak positif bagi pengembangan kualitas berdemokrasi,” kata Andi Luhur Prianto, Selasa (16/1/2018).

“Kalau model kampanye seperti ini yang di kembangkan maka bisa berubah dari simpati menjadi antipati publik pemilih yang di peroleh,” sambung Luhur Priyanto.

Sebagai pemerhati Demokrasi, Luhur Priyanto menghimbau kepada seluruh kandidat untuk fokus pada adu ide dan gagasan, sebab kata dia, ruang publik sudah terlalu banyak diisi oleh caci maki politik.

“Sebaiknya kandidat fokus pada kontestasi gagasan serta visi dan misi kepemimpinannya. Ruang publik Pilkada sudah terlalu surplus di caci maki tetapi masih defisit ide dan gagasan,” tutup Andi Luhur Prianto.

(gunawan songki/pojoksulsel)



loading...

Feeds