Ternyata… 97 Persen Ibu Hamil Ngaku ‘Kebobolan’

Ilustrasi - Ibu hamil

Ilustrasi - Ibu hamil

POJOKSULSEL.com – Bagi pasangan suami istri, merencanakan kehamilan haruslah benar-benar matang.

Jika memang ingin punya anak, maka semestinya harus ada niat dari awal sehingga buah hati akan tumbuh dengan matang dan cerdas.

Sementara jika memiliki buah hati hanya karena ‘kebobolan’ atau kehamilan yang tak disengaja atau kebablasan, maka hal ini bisa berdampak pada gizi dan pola asuh anak.

Guru Besar Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, Prof. Dr Biran Affandi SpOG(K) mengungkapkan data bahwa banyak para ibu yang hamil dengan alasan ‘kebobolan’, padahal mereka belum ingin hamil. Tiap tahun, kata Biran, ada 5 juta ibu-ibu melahirkan.

“Menurut survei, dari jumlah itu sebanyak 97 persen belum ingin hamil dulu dalam waktu 2 tahun (tapi kebobolan)” ujar Biran kepada wartawan, Sabtu (16/12).

Menurut Biran, hal itu terjadi karena setelah melahirkan anak pertama yang menggunakan KB hanya 20 persen. Tentu tujuannya agar tak terjadi kebobolan kehamilan.

“Itu upaya jangan kesundulan, ibu-ibu harus pakai kontrasepsi. Pasca persalinan wajib pakai kontrasepsi, entah apa yang disundul,” kata Biran tertawa.

Sebab, lanjutnya, ovulasi dapat terjadi 21 hari pasca persalinan. Biran mengingatkan, sasaran akseptor KB yang tidak boleh dilupakan, adalah pasangan usia subur pasca melahirkan dan keguguran.

“Mereka adalah pasangan usia subur yang tidak mau hamil lagi, tetapi tidak mau ber-KB. Data menunjukkan peserta KB setelah bersalin hanya 20 persen,” kata Biran.

Sementara jumlah keguguran sekitar 6 juta per tahun. Kedua kelompok ini akan langsung subur kembali jika tidak diberikan KB.

“Maka harus melihat bahwa ada 10 juta untuk dua kelompok pasca melahirkan dan pasca keguguran saja, dan harus menjadi sasaran untuk KB. Alat KB terbaik yang tidak mempengaruhi ASI yaitu IUD dan implant,” jelas Biran.

Biran kembali mengingatkan bahwa kehamilan seharusnya direncanakan dan diinginkan. KB yang sudah dicanangkan sejak 1971 saat penduduk Indonesia hanya 70 juta, hendaknya terus digalakkan dengan berbagai upaya. Apalagi KB sangat berkorelasi dengan Angka Kematian Ibu (AKI). (JPC/pojoksulsel)



loading...

Feeds