Hindari Anal Seks, Rentan Terjangkit HIV

ilustrasi : pixabay

ilustrasi : pixabay

POJOKSULSEL. com – Ketika situs gaya hidup milik Gwyneth Paltrow Goop memberikan ruang untuk sebuah tulisan tentang seks anal untuk pasangan lain jenis, hal itu menimbulkan beberapa kehebohan.

Tanya jawab dengan psikoanalis Paul Joannides, (penulis buku The Guide to Getting It On!), membahas mengenai sejarah anal hingga menjadi populer, serta beberapa tips bagaimana melakukannya dengan benar.

Penelitian menunjukkan bahwa seks anal tidak begitu lazim. Sebuah studi tahun 2016, menemukan bahwa hanya 12,2 persen wanita Amerika Serikat (AS) telah melakukannya dalam tiga bulan terakhir.

Untuk mengetahui lebih lanjut, Dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang juga Direktur Center for Sexual Medicine and Menopause di Feinberg School of Medicine di Northwestern University, Dr. Lauren F. Streicher, MD mengungkapkan ada sejumlah risiko dari seks anal yang wanita perlu ketahui, yaitu;

1. Terjangkit HIV hingga HPV

Dr. Streicher menegaskan bahwa anus tidak dibuat untuk hubungan intim. Miss V memiliki lapisan tebal, elastis, seperti alat musik akordeon yang dirancang untuk meregang untuk menampung alat kelamin pria, atau bayi. Sedangkan jaringan rektum pada anus lebih tipis dan tidak memiliki elastisitas yang sama. Oleh karena itu, anus kemungkinan bisa sobek dan meningkatkan peluang untuk tertular infeksi menular seksual, seperti gonore rektal (kencing nanah), klamidia, dan HIV (human immunodeficiency virus).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, seks anal adalah perilaku seksual berisiko tertinggi yang menyebabkan terinfeksi HIV. Meskipun, seks anal disebut paling mungkin menularkan human papillomavirus (HPV) yang kemudian bisa menyebabkan kutil dubur dan kanker dubur.

“Sangat sedikit pria heteroseksual yang memiliki HIV, namun separuh pria memiliki HPV,” kata Dr. Streicher.

2. Terjadinya rasa sakit, pendarahan, dan inkontinensia feses

Merujuk pada penelitian baru dari sebuah tim di Northwestern University, menemukan bahwa wanita yang melakukan seks anal cenderung terganggu konsistensinya dalam buang air besar. Selain itu, menyebabkan adanya inkontinensia (ketidakmampuan menahan pembuangan) urin dan feses.

Akan tetapi, jika anda tetap tertarik untuk mencoba seks anal, berikut cara teraman yang disarankan Dr. Streicher, yaitu menggunakan alat kontrasepsi (kondom).

“Sebagai Ginekolog, saya memberi tahu siapapun dengan jenis hubungan apapun, untuk selalu menggunakan kondom ketika seks anal,” sarannya.

Kemudian, ia juga menyarankan mengganti alat kontrasepsi jika hendak melakukan penetrasi normal setelah seks anal, sehingga mengurangi risiko terkena infeksi saluran kemih.

(yln/JPC/pojoksulsel)



loading...

Feeds