Soal Jenazah yang Digotong Sejauh 36 Km, Ini Langkah Bupati Lutra

Bupati Lutra Indah Putri Indriani | DOK. HUMAS DAN PROTOKOLER PEMKAB LUTRA

Bupati Lutra Indah Putri Indriani | DOK. HUMAS DAN PROTOKOLER PEMKAB LUTRA

ADANYA pemberitaan yang disertai foto terkait jenazah Mesak Wungko, yang digotong sejauh 36 kilometer (km) yang saat ini menjadi viral di media sosial, membuat Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani sangat prihatin.

Indah Putri Indriani pun melakukan langkah taktis dengan segera memanggil beberapa SKPD teknis guna menyikapi kejadian tersebut dan menanyakan progress pembukaan akses jalan dan fasilitasi kesehatan di Puskesmas Rampi.

Ekspresi tersebut terlihat jelas saat orang nomor satu di Lutra itu ditemui pada Kamis (7/12/2017) di Masamba.

“Saya sedih, sekaligus prihatin melihat prosesi pemakaman terhadap warga kita yang ada di Rampi. Saya kira semua ini ada hikmahnya, utamanya bagi jajaran pemerintah daerah untuk melakukan percepatan pembangunan, khususnya terkait infrastruktur jalan ke Kecamatan Rampi,” ujar Bupati Indah Putri saat ditemui di ruang kerjanya.

Apa yang terjadi di Rampi itu, kata Indah, menjadi pelajaran bagi semua, bukan hanya pemerintah daerah, tetapi seluruh masyarakat Luwu Utara, bahwa untuk menyelesaikan persoalan tersebut dibutuhkan kebersamaan, kekompakan, kerjasama dan koordinasi antarstakeholder, terutama dengan Pemerintah Provinsi Sulsel dan pusat.

Untuk itu, terkait akses jalan, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara jauh sebelumnya sudah berupaya mempercepat proses penyelesaian pekerjaan jalan dari Masamba menuju Rampi.

“Sebelum ada peristiwa ini, Pemda sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya percepatan penyelesaian pekerjaan jalan menuju Rampi, dengan membuka beberapa titik jalan. Alat berat kami sudah lama beroperasi di sana,” ungkap Indah.

lutra, luwu utara, adv pemkab lutra, adv lutra, bupati lutra, indah putri indriani, bupati cantik, jalan rampi, rampi lutra, jenazah digotong 36 km

Alat berat bekerja dalam proyek pembukaan akses jalan ke Rampi, Lutra.

Namun, semua itu, lanjut Indah, butuh proses karena pekerjaan jalan di medan yang berat seperti Rampi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pemerintah juga tengah mengupayakan agar jalan tersebut berubah status menjadi jalan negara mengingat akses jalan itu menghubungkan dua provinsi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Bukan itu saja, dengan kondisi lahan yang cukup labil karena berada di wilayah hutan lindung mengakibatkan pekerjaannya menyita waktu yang cukup panjang.

“Pemerintah daerah tidak pernah menutup mata, apalagi tidur, melihat kondisi ini. Sudah setahun belakangan kami berupaya membuka akses jalan baru menuju Rampi yang progressnya sudah mencapai 3 km dari target 6 km dengan dana APBD 2017. Titik nol dari dusun Tolada Desa Leboni ke dusun Lekko desa Leboni. Walaupun medannya sangat berat namun diusahakan selesai akhir tahun dan sudah dapat dilalui roda empat dari Masamba ke Onondowa Rampi,” terang Indah.

Juga di tahun 2019, direncanakan dibuka akses jalan baru 30 km melalui hutan lindung dari desa Tedeboe Rampi ke desa Singkalong Seko, yang tentunya dapat dilaksanakan jika sudah mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat. “Tapi ini bukan pekerjaan sim salabim. Saya berkali-kali katakan ke seluruh jajaran Pemkab Lutra, pemerintah harus hadir memberi solusi, apapun kondisi masyarakat kita,” ucapnya.

Upaya lain yang tengah dilakukan pemerintah daerah adalah memperlancar akses lewat udara. “Insya Allah mulai 2018, pemerintah bakal mendatangkan pesawat kargo, sebuah pesawat khusus untuk mengangkut barang atau komoditi lainnya. “Tolong dicatat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah memprogramkan Luwu Utara untuk pengangkutan kargo ke wilayah Seko dan Rampi pada Januari 2018,” ungkapnya.

Komitmen Pemda juga ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas kesehatan di daerah terpencil seperti Puskesmas Rawat Inap di desa Sulaku Rampi dengan tenaga medis dan lainnya, sesuai Permenkes 75 tahun 2014 tentang Puskesmas.

“Untuk infrastruktur kesehatan, kita juga telah membangun Puskesmas Rampi yang dulunya cuma bisa rawat jalan, sejak Juli 2017 sudah menjadi rawat inap dengan 144 peyakit yang tidak boleh dirujuk, harus selesai di Puskesmas,” beber Indah.

Dengan adanya Puskesmas ini, lanjut Indah, diharapkan semua pasien bisa berobat di sana, dan tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kota Masamba atau Palopo untuk berobat. “Untuk itu, pemerintah harus hadir di kehidupan masyarakatnya, mulai dari aspek pelayanan, kesejahteraan, keamanan sampai kepada akses transportasi serta infrastruktur lainnya sebagai penopang keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan guna mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera,” kunci Indah.

Rilis:
Humas dan Protokoler Pemkab Lutra

(LH)



loading...

Feeds