Catatan Zainal Tahir tentang Deng Ical. dari Kandang Puyuh Hingga Sombere

Zainal Tahir dan Deng Ical

Zainal Tahir dan Deng Ical

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Sombere’na Makassar menjadi gelar yang dilekatkan pada Deng Ical. Sosok yang ramah, low profile, dan tak mengenal batas pergaulan dengan siapa saja. Deng Ical, nama gaul dan populer dari seorang Dr Syamsu Rizal MI, yang saat ini menjabat sebagai wakil walikota Makassar.

Sosok sombere Deng Ical ternyata bukan karbitan, parsial, atau dilakukan saat menjadi pejabat publik. Sahabatnya, yang sesama alumni di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Hasanuddin (Unhas), pun mengakui sosok sombere Deng Ical sudah melekat dalam dirinya.

Adalah Zainal Tahir, yang menulis sosok sombere Deng Ical dalam statusnya di Facebook. Zainal Tahir menceritakan kebersamaannya dengan Deng Ical saat masih menjadi mahasiswa.

Romantisme menunggu mobil “kandang puyuh” hingga harapan Deng Ical yang akan maju sebagai kandidat walikota Makassar periode mendatang ditulisnya dalam status di akun media sosialnya.

Zainal Tahir pun memberikan support pada Deng Ical untuk “naik kelas” maju di Pilkada Makassar 2018. “Pembangunan Makassar yang begitu terasa kemajuannya, pun tak bisa dipisahkan dari peran Deng Ical.

“Jika kemudian ia berhasrat jadi walikota, itu tepat sekali. Semoga partainya, yang juga pernah jadi partai saya, bisa memahami dan mengusungnya. Ia seorang pejuang. Dari awal,” begitu tulisan Zainal Tahir.

Berikut status lengkap Zainal Tahir mengenai sosok Deng Ical:

DENG ICAL

Ia kerap berdiri di pertigaan Sultan Hasanuddin – Pallantikang, Sungguminasa di pagi hari. Di depan showroom mobil Bukukumba Jaya Motor. Menanti Petepete –sebutan Mikrolet di Makassar– warna merah tua yang akan menurunkannya di ujung Pettarani, Makassar.

Dari situ, Petepete 07 jurusan Kampus Unhas Tamalanrea telah menantinya.
Saya selalu bertemu dengannya di tempat penantian Petepete itu. Cuma saya tak menunggu Petepete.

Saya menunggu Kandang Puyuh alias bus bertingkat bermerek Volvo yang dikelola Damri, jurusan Sungguminasa – Sentral. Nanti di Kilo 4 Makasaar, kini flyover, lanjut lagi dengan Kandang Puyuh yang lain, yang langsung masuk ke Kampus Unhas.

Kadang pula ia menyapa saya duluan di atas Kandang Puyuh. Berdua kami sering bersamaan menyodorkan karcis langganan bulanan kepada kondektur berpakaian ungu.

Deng Ical, lengkapnya Dr. H. Syamsu Rizal MI, S.Sos, M.Si. Masa itu ia kuliah di Fisipol Unhas. Jurusan Komunikasi. Saya di Jurusan Administrasi Negara di Fakultas yang sama. Angkatannya tiga tahun lebih muda dari saya.

Kala itu ia tinggal di Kompleks Kodam Pandang-Pandang Blok E paling ujung, tak jauh dari Masjid Al-Muhajirin. Di sebelah rumahnya, sudah areal kuburan Cina. Saya tinggal di Kelurahan Pandang-pandang, di lorong di belakang Bukukumba Jaya Motor.

Kami sering bersua di tempat pemberhentian angkutan umum. Petepete dan Kandang Puyuh.

Barusan ini, saya ketemu dengannya di Boulevard Panakukang, ketika ia bersepada dan saya jalan kaki menuju warkop. Ia yang mendatangi saya. Dan, dalam sekejap ia sudah dikerubuti banyak orang untuk dimintai selfie.

Yang saya mau bilang adalah, ia sosok yang merakyat. Ia pribadi yang low profile. Dan, ia begitu sombere bagi siapa saja. Teramat sombere bagi saya.

Dan, yang saya mau bilang lagi, bahwa ia dulu orang biasa. Dari keluarga biasa-biasa saja. Tak ada nama besar di belakang namanya. Tak ada orang tajir yang memback up perjalanan karirnya. Juga tak ada konglomerasi yang mendongkrak popularitasnya.

Di Makassar, saya dengar surveinya sedikit di bawah walikotanya. Wajar tawwa, sebab ia kini Wakil Walikota Makassar yang tak mengenal sekat dan selalu ke mana-mana dalam upaya membangun Makassar.

Pembangunan Makassar yang begitu terasa kemajuannya, pun tak bisa dipisahkan dari peran Deng Ical. Jika kemudian ia berhasrat jadi walikota, itu tepat sekali.

Semoga partainya, yang juga pernah jadi partai saya, bisa memahami dan mengusungnya.

Ia seorang pejuang. Dari awal.

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds