Lelang Aset dengan Harga Miring, Warga Gowa Gugat Bank Panin Makassar

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Seorang warga Jalan Tun Abdul Razak, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa, Mudrika Mawarsari menggugat pimpinan Bank Panin Makassar. Gugatan ini terkait aset Kusnadi berupa rumah dan tanah seluas 3.500 meter² dengan harga miring.

Ardi Yusran, Kuasa hukum Mudrika Mawarsari mengatakan seharusnya aset kliennya tersebut dilelang sesuai dengan harga taksasi, di antaranya merujuk pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang dari kelurahan setempat, atau merujuk pada taksasi pihak swasta yakni pihak properti maupun taksasi dari Kantor Jasa Penilai Publik.

Ardi Yusran mengatakan, nilai lelang yang dikeluarkan Bank Panin Makassar hanya Rp2,5 miliar. Padahal taksasi Kelurahan setempat mengeluarkan harga Rp10 miliar, dengan harga per meter sebesar Rp3 juta.

Sementara itu, taksasi yang dikeluarkan oleh pihak properti sebesar Rp11 miliar untuk aset tersebut. Tidak hanya itu,  Kantor Jasa Penilai Pajak mengeluarkan taksasi sebesar Rp8 miliar lebih.

“Pertanyaanya kemudian, apa yang menjadi dasar Bank Panin melelang aset klien kami dengan harga miring,” kata Ardi Yusran bersama kuasa hukum lainnya Andi Amin Tamatappi, Senin (27/11/2017).

Menurut Ardi Yusran, lelang yang dilakukan oleh Bank Panin Makassar terhadap aset  kliennya tersebut, merupakan iktikad buruk karena tidak menggunakan acuan yang jelas.

Lebih parah lagi, lanjut Ardi, sertifikat aset berupa rumah dan tanah milik kliennya tersebut telah beralih nama ke pihak ketiga oleh Bank Panin Makassar tanpa melalui proses roya atau melibatkan seluruh ahli waris yang memiliki hak atas aset tersebut.

“Selain kami sudah resmi ajukan gugatan perdata untuk menuntut taksasi aset klien kami yang sebenarnya ke Pengadilan Negeri Makassar, kami juga akan laporkan pidana secara resmi ke Kepolisian dekat ini,” jelas Ardi.

Diketahui, saudara penggugat bernama Kusnadi awalnya mengambil kredit ke Bank Panin Makassar sebesar Rp 2,5 Miliar dengan menjaminkan asetnya berupa rumah dan lahan seluas 3.500 meter² yang merupakan milik bapak kandungnya, Hasrul Azis tepatnya pada 11 Oktober 2011.

Tujuh bulan tagihan kepada bank Panin Makassar berjalan lancar, tiba tiba pada bulan Juni 2012, ia menunggak sehingga pihak bank menerbitkan surat teguran pertama. Namun hanya berlangsung beberapa hari, tunggakan tersebut langsung dilunasi. Sehingga tagihan sempat berjalan normal.

Anehnya, meski tagihan sudah dilunasi, pihak Bank Panin Makassar tetap melanjutkan terbitnya surat teguran yang kedua hingga teguran ketiga. Dan pada akhirnya pihak bank panin Makassar melelang aset yang menjadi agunan warga tersebut tanpa memberitahu pihak pemilik agunan secara resmi.

Sementara itu, Regional Manager KTI Bank Panin Andi Hudli Huduri yang dihubungi pojoksulsel belum memberikan jawabn terkait proses gugatan perdata atas lelang aset tersebut.

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds