Tulisan Tangan Surat Setya Novanto, Analisa Grafologi: Putus Asa!

Ketua DPR Setya Novanto. Foto via jawapos.com

Ketua DPR Setya Novanto. Foto via jawapos.com

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Tersangka kasus korupsi e-KTP Setya Novanto kini meringkuk di rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Sejak Senin (20/11) dini hari.

Keesokan harinya, dari balik jeruji besi, ia menulis dua surat dibubuhi materai Rp6000. Surat pertama ditujukan ke internal partainya dan surat kedua ditujukan kepada pimpinan DPR RI.

Pertanyaannya, adakah makna di balik tuisan tangan Setnov tersebut dikaitkan dengan Grafologi?

Secara harafiah, grafologi adalah ilmu yang memelajari karakter seseorang dengan menganalisis tulisan tangannya.

Grafologi juga sering disebut sebagai analisis pola tulisan tangan yang dapat mengidentifikasi kondisi psikologis maupun karakter seseorang.

Ada dua metode yang dipakai untuk menilai karakter dan kepribadian seseorang lewat ilmu ini. Yakni teknik Jerman dan teknik Prancis.

korupsi, korupsi ektp, setnov, setya novanto, setnov korupsi ektp, setnov ditahan, setya novanto ditahan, surat setnov, analisa surat setnov

Metode Jerman dilakukan dengan cara melihat secara keseluruhan tulisan seseorang. Sedangkan metode Prancis menganalisis huruf per huruf lalu digabungkan.

Menurut riset ilmiah, akurasi analisis grafolog bisa mencapai 80-90 persen.

Grafolog Kusuma Prabandari menyimpulkan, sang penulis surat sangat sulit mewujudkan mimpinya yang bak di siang bolong.

Yang menarik, Prabandari menyebut, suasana batin sang penulis terlihat sedang putus asa.

Prabandari mengatakan, penulis sebetulnya menunjukkan sikap penuh percaya diri dan berbangga hati.

Secara umum, tulisan tangan dengan seluruh hurufnya besar atau kapital tidak dapat dianalisis secara lengkap.

Ada sifat yang tidak terbaca dalam tampilan huruf seperti itu.

“Namun tetap kita bisa melihat dari gaya penulisan yang lain. Akan lebih komprehensif, lengkap, dan mendalam bila menganalisis tulisan itu berdasalkan surat asli,” ucap kepada Kusuma Prabandani kepada INDOPOS (grup pojoksatu.id) di Jakarta, Rabu (22/11/2017).

Dari contoh tulisan yang beredar tersebut, papar alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) itu, yang paling menonjol adalah penulis memiliki kecenderungan mudah berubah pikiran dan ragu di saat awal menghadapi sebuah pemikiran/konsep/masalah yang harus dihadapi.



loading...

Feeds