Tambang Resahkan Warga Barru, setelah Dicek Ternyata Ilegal

BLHD Barru meninjau langsung aktifitas tambang ilegal di Desa Kupa, Barru

BLHD Barru meninjau langsung aktifitas tambang ilegal di Desa Kupa, Barru

POJOKSULSEL.com, BARRU – Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Barru akhirnya turun langsung meninjau lokasi penambangan liar, di Dusun Kupa, Desa Kupa, Kecamatan Mallusetasi, Barru, Rabu (18/10/2017).

Hal itu dilakukan menyusul informasi adanya keresahan warga yang terkena dampak dari aktifitas penambangan tersebut.

Pertemuan dilakukan di kantor Desa Kupa, antara pemerintah desa setempat, warga dan pihak CV Zamzam selaku perusahaan penambangan.

Kepala BLHD Barru Muhammad Taufik Mustafa menyebut, tidak ada perizinan penambangan yang berlaku di lokasi tersebut yang direkomendasikan pihaknya ke provinsi.

“Pihak perusahaan harus melengkapi dulu izin-izinnya sebelum melakukan aktivitas pertambangan, tambang itu selain melanggar, juga menyulitkan kami melakukan pengawasan,”sebutnya.

Dalam dokumen perizinan, kata Taufik, tertuang kewajiban pemilik perusahaan pertambangan terhadap kepentingan masyarakat.

“Pihak perusahaan tidak boleh mengabaikan hak-hak warga. Termasuk menyelesaikan persoalan dampak debu dan lumpur yang disebabkan dari pertambangan itu,” katanya.

Suardi, Kepala Desa Kupa, sebagian besar warga menolak aktifitas tambang karena mengeluhkan debu dan lumpur, disamping kebisingan kendaraan dan alat berat yang digunakan karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan permukiman warga.

“Sejumlah warga yang menolak tambang tersebut, sudah bertandatangan dan kami teruskan ke BLHD Barru untuk mencari solusi, agar kegiatan pertambangan tersebut, tidak lagi meresahkan warga,”ucap Suardi.

Sementara itu, salah seorang warga Sukirman, mengatakan, pertambangan pengerukan bukit yang berada dibelakang permukiman warga dilakukan tiba-tiba dan tanpa sosialisasi sebelumnya.

Warga, kata dia, mempertanyakan legalitas yang dijalankan perusahaan pertambangan tersebut karena diduga belum mengantongi izin.

“Sangat meresahkan kami. Tanah longsor menjadi ancaman akibat tambang liar itu,”kesalnya.

Andi Abbas pemilik CV Zamzam berdalih jika hasil pertambangan yang dilakukan pihaknya untuk kepentingan penimbunan jalur rel kereta api.

“Sebagian juga kita gunakan sebagai bahan baku semen yang kami bawa ke Kabupaten Pangkep,”dalihnya.

Dia pun berjanji, segara melengkapi perisizinan pertambangan lalu menyelesaikan persoalan kebisingan serta debu dan lumpur yang merugikan warga setempat. (haerul amran/pojoksulsel)



loading...

Feeds

Resmi!!! Ongkos Haji 2018 Naik

POJOKSULSEL. com – Ongkos penyelenggaran ibadah haji di tahun 2018 atau 1439 hijriah mengalamai kenaikan ‎sebesar 2,58 persen. Hal itu …

Stadion Mattonging Ditutup

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Stadion Andi Mattalatta Mattoanging Makassar, akan ditutup sementara. Ini dilakukan selama perbaikan lapangan, yang mengalami kerukan pasca …