Film Sejarah G30S/PKI Masih Jadi Favorit Warga

Suasana nobar film G30-S/PKI di Gedung Serbaguna, Makodam XIV Hasanuddin, Sabtu (23/9/2017). | POJOKSULSEL - MUH FADLY

Suasana nobar film G30-S/PKI di Gedung Serbaguna, Makodam XIV Hasanuddin, Sabtu (23/9/2017). | POJOKSULSEL - MUH FADLY

POJOKSULSEL.com – Antusiasme warga masyarakat untuk menyaksikan film Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI (1984) sangat terlihat jelas. Pasalnya, masyarakat ingin mengetahui sejarah kelam bangsa Indonesia pada masa itu.

Kegiatan nonton bareng tersebut digelar oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat di alun-alun Cijantung, Jakarta Timur.

 

“Ini film bagus, kita bisa tahu sejarah bangsa Indonesia melalui film G30 S PKI,” kata Genan (35) kepada JawaPos.com di alun-alun Cijantung, Jakarta Timur. Sabtu (23/9) malam.

Menurut Genan, film tersebut sempat ia tonton ketika masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Namun, saat ini film bernuansa pembantaian tujuh Jenderal TNI itu masih menjadi favoritnya, lantaran dapat mengetahui kekejaman PKI pada masa itu.

“Ini masih saya suka, kita dapat tahu kekejaman PKI dari film ini,” ucapnya.

Tidak hanya Genan, warga lainnya seperti Niko (25) sengaja mendatangi alum-alun Cijantung untuk dapat menyaksikan bersama-sama film bernuansa komunis tersebut.

Ia menyebut, dengan menonton film G30 S PKI yang diselenggarakan oleh TNI dapat mengetahui sejarah bangsa Indonesia agar tidak terulang di masa sekarang.

“Ingin tahu sejarahnya seperti apa, mudah-mudahan nggak ada lagi kasus seperti itu,” ungkapnya.

Kepala Penerangan Kopassus, Letkol Infantri Joko Trihadimantoyo mengatakan, nantinya pada Sabtu, (30/9) mendatang menjadi malam puncak pemutaran film Pengkhianatan G30 S PKI (1984) di Lapangan Gatot Soebroto, Markas Kopassus.

“Malam puncaknya nanti Sabtu (30/9) mendatang di Lapangan Gatot Soebroto,” terangnya.

Lebih lanjut, Joko berharap generasi muda yang menonton film tersebut akan memahami secara benar mengenai G30 S PKI.

“Iya sejarah masa lalu, kan waktu itu Panglima sudah menyampaikan di media, sejarah itu pasti berulang. Karena untuk agar tidak terulang maka harus nonton itu,” tandasnya.

(cr5/JPC/pojoksulsel)



loading...

Feeds