Polda Gerebek 2 Pabrik Pupuk Kapur Ilegal di Maros

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani memperlihatkan sampel pupuk kapur ilegal di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. POJOKSULSEL/MUH FADLY

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani memperlihatkan sampel pupuk kapur ilegal di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. POJOKSULSEL/MUH FADLY

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Subdit I Ditreskrimsus Polda Sulsel berhasil menggerebek pabrik pupuk kapur ilegal di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Selasa (12/9/2017).

Pupuk kapur yang telah berproduksi selama hampir 5 tahun ini, namun tidak memiliki izin edar dan tidak terdaftar di Kementerian Pertanian RI.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, terbongkarnya peredaran pupuk kapur ini bermula dari temuan Satreskrim Polres Enrekang pada 9 September 2017 lalu.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani memberikan keterangan pers terkait kasus penggerebekan gudang pupuk kapur ilegal di Dusun Tamangesang, Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. POJOKSULSEL/MUH FADLY

Kemudian, Subdit I Ditreskrimsus Polda Sulsel melakukan penelusuran pabrik pupuk kapur tersebut. Sehingga ditemukan 2 pabrik di Kabupaten Maros pada Selasa (12/9/2017) lalu.

“Satu pabrik besar terletak di Desa Desa Bontolempangan, Kecamatan Bontoa, dan satu pabrik lebih kecil di Kariango Maros,” kata Dicky Sondani, Kamis (14/9/2017).

Lanjut Dicky Sondani, penyidik Ditreskrimsus telah menetapkan pemilik pabrik berinisial RN (48), sebagai tersangka dalam peredaran pupuk kapur tanpa izin.

Sementara Wadir Krimsus Polda Sulsel AKBP Yuliar Kus Nugroho mengatakan, pupuk kapur ini dijual kepada masyarakat dengan harga bervariasi.

“Mulai dari harga Rp25 ribu sampai Rp35 ribu rupiah,” kata Yuliar.

Dikatakan Yuliar, pupuk kapur ilegal ini telah beredar kepada petani Enrekang, Palopo, Luwu dan beberapa daerah lain di Sulsel.

“Kata tersangka pupuk kapur ini berfungsi untuk perbaikan unsur hara tanah,” ujar Yuliar.

Tersangka RN dijerat Pasal 62 ayat 1 Jo Pasal 8 ayat 1 (a) UU 8/1999 tentang perlindungan konsumen, dengan ancaman penjara 5 tahun. Atau denda Rp2 miliar.

RN juga dijerat Pasal 60 ayat 1 (f) Jo Pasal 37 ayat 1 UU 12/1992 tentang sistem budidaya tanaman,dengan ancaman pidana 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta.

(muh fadly/pojoksulsel)



loading...

Feeds

Dewi Sanca, haters Dewi Sanca

Serang Haters, Dewi Sanca Sehat?

POJOKSULSEL.com – Pedangdut Dewi Sanca kembali menjadi bulan-bulanan netizen di media sosial. Tak tahan dengan cibiran haters, Dewi Sanca pun …