Diskusi Warisan Sejarah Arianisme, Ini Kata Rektor UIN

POJOKSULSEL.com, GOWA – Rektor UIN Alauddin Prof Dr Musafir Pababari, mengapresiasi kegiatan seminar dan beda buku Warisan Sejarah Arianisme karya Maurice Wiles, yang digelar di Gedung Rektorat lantai 4, Selasa (12/9/2017).

Kegiatan yang terlaksana atas kerja sama, Perhimpunan Islam Paramartha Kadisiyah (PIPK), UIN Alauddin dan Pemkab Bantaeng ini, menghadirkan narasumber yang kredibel di bidangnya.

 

Di antaranya Zaenal Muttaqin, penerjemah buku Warisan Sejarah Ariansme dari Pustaka Matahari Bandung, Dr. Mohammad Sabri AR., M. Ag, dosen Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang juga mendalami kajian-kajian irfani, dan budayawan, kolumnis dan dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intim Ishak Ngeljaratan.

Rektor UIN Alauddin Prof Dr Musafir Pababari mengatakan, Arianisme adalah konsistensi dari pemikiran teologis. “Saya sepakat dengan seminar seperti ini. Setelah saya membaca, saya melihat warisan Arianisme ini adalah konsistensi dari pemikiran teologis,” katanya.

Musafir mengungkapkan, ajaran tentang monoteisme dari Ibrahim AS, oleh Islam atau oleh agama lain disebut Abraham yang dijuluki bapak monoteisme murni, kemudian, turun samapai kepada Muhammad SAW.

“Dari sini lahir berbagai macam sekte. Walaupun awalnya dari ajaran Ibrahim. Ini harus dipahami, ajaran theologi harus dipahami secara theologis juga jangan dipahami secara sosiologis,” katanya.

Misalnya dalam islam, kata Musafir,, kitalah umat yang terbaik (kuntum khaera ummah, theologisnya) tifak ada yang berani membantah ini, karena dikeluarjan oleh Qur’an.

“Tapi coba kita lihat darinsegi emperis, apakah kita umat yang terbaik? Tentu ini memerlukan diskusi. Mana yang terbaik, terbaik dari apa,” lanjut Musafir.

“Misal dari segi ekonomi, Konfensional atau Ekonomi Syariah. Kita lebih banyak menggunakan kartu atm dari bank konvensional dari pada kartu syariah. Dari segi politik, apakah kita terbaik?,” Musafir melanjutkan.

Dengan adanya pemikiran ini, lanjut Musafir, akan terjadi dialektika pemikiran. “Inilah pentingnya diskusi seperti ini. Agar pertanyaan-pertanyaan itu bisa terjawab,” kata Musafir.

(islamuddin dini/pojoksulsel)



loading...

Feeds