Bedah Buku Warisan Sejarah Arianisme, Isaac Newton dan Kristen Primitif

Buku Warisan Sejaran Arianisme

Buku Warisan Sejaran Arianisme

PUSTAKA Matahari asal Bandung kembali menerbitkan tema buku yang langka di pasaran, tema yang cukup unik dan sarat dengan makna untuk memahami kehidupan yang lebih baik.

Kali ini Pustaka Matahari Bandung menerbitkan buku Warisan Sejarah Arianisme, karya Maurice Wiles yang merupakan regius professor of divinity di Unibersitas Oxford.

Kajian Arianisme menjelaskan tentang sebuah aliran dalam Kristen yang menempatkan Yesus Kristus sebagai manusia biasa, dan mendapat kemuliaan di sisi Tuhan pasca Kenaikan Almasih.

Polemik paham Arian atau Arianisme, mulai mencuat pada Abad IV, dan telah memaksa Kaisar Constantine mengadakan Konsili Nicea pada 325 M.

Hasil dari Konsili Nicea memutuskan bahwa ajaran Arian adalah bidat (bid’ah). Namun, 1400 tahun kemudian “Arianisme” mendadak bangkit di Tanah Inggris, dan melibatkan orang-orang hebat dan memiliki reputasi baik seperti Sir Isaac Newton, William Whiston, dan Samuel Clarke.

Newton adalah seorang ilmuwan yang penemuannya telah merubah wajah sains modern. Tetapi perlu pembaca buku Warisan Sejarah Arianisme ini pahami bahwa Newton bukanlah sekadar seorang ilmuwan saja, dia juga adalah seorang yang sangat religius dan menguasai Alkitab.

Kredibilitas Newton dalam pemahaman tentang wacana religi dan penguasaan Alkitab diakui oleh sahabat sekaligus mentor Newton yang bernama John Locke. Locke memberikan kesaksian: “Pengetahuan Isaac Newton atas Alkitab sungguh luar biasa, sehingga apa yang aku ketahui tidak sebanding dengannya”.

Newton melihat dirinya sendiri sebagai pengikut setia agama Kristen primitif, agama yang diajarkan oleh Kitab Suci dan, hingga tahap tertentu, yang juga diajarkan oleh gereja-gereja pada abad ke-2 dan abad ke-3.

Selain mentor Newton, William Whiston yang juga junior Newton di Universitas Cambridge, mengamati tentang Kristen primitif yang diamalkan Newton, “bagi Isaac Newton apa yang disebut sebagai ajaran Kristen primitif itu tidak jauh berbeda dengan apa yang selama berabad-abad diberi label Arianisme: “What has long been called Arianism is no other than old uncorrupt Christianity”.

Menarik untuk diketahui bersama, dengan pesatnya perkembangan agama kristen saat ini yang membidatkan ajaran Arianisme yang diamalkaan Newton, bisa bangkit di Inggris pada Abad Ke-18 dan melibatkan tokoh-tokoh besar. Bagaimana fenomena ini bisa terjadi?

Temukan jawabannya dalam buku Warisan Sejarah Arianisme dan pembahasannya dalam Seminar & Diskusi Buku “Warisan Sejarah Arianisme” di Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin, Makassar.

Bedah buku ini digelar Selasa, 12 September 2017, pukul 07.30 – 12.00 WITA, di Gedung Rektorat UIN Alaudin Makassar lantai 4.

Dengan nara sumber yang memiliki kredibilitas di bidangnya, diantaranya Zaenal Muttaqin, penerjemah buku Warisan Sejarah Ariansme dari Pustaka Matahari Bandung ; Dr. Mohammad Sabri AR., M. Ag, dosen Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang juga mendalami kajian-kajian irfani; dan budayawan, kolumnis dan dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Intim Ishak Ngeljaratan.

Peserta seminar dan bedah buku ini dibatasi hanya sebanyak 250 orang, dan setiap peserta akan mendapatkan seminar kit, sertifikat, snack, dan diikut sertakan dalam pengundian doorprize.

Lebih penting acara ini semuanya gratis karena telah disupport oleh Perhimpunan Islam Paramartha Kadisiyah (PIPK), UIN Alauddin, Pemkab Bantaeng, PT Kalbe, Pojok Sulsel, Celebes TV, Harian Fajar, Ujungpandang Ekspres, Berita Kota Makassar, dan Pustaka Matahari Bandung.

Penulis:
Bastian Jabir Pattara



loading...

Feeds