Pengungsi Rohingya: Adik dan Paman Saya Ditembak Tentara

Jenazah warga etnis Rohingya yang tewas setelah kapalnya terbalik akibat derasnya arus Sungai Naf mulai dievakuasi. Hanya dalam 3 hari, 46 orang kehilangan nyawa. (AFP PHOTO)

Jenazah warga etnis Rohingya yang tewas setelah kapalnya terbalik akibat derasnya arus Sungai Naf mulai dievakuasi. Hanya dalam 3 hari, 46 orang kehilangan nyawa. (AFP PHOTO)

POJOKSULSEL.com – Krisis yang melanda etnis Rohingya, Myanmar tidak hanya terjadi belakangan ini saja, tapi sudah bertahun-tahun. Buktinya Indonesia telah menampung pengungsi pencari suaka dari Myanmar itu di sejumlah daerah.

Salah satu tempat penampungan pengungsi asal Myanmar itu yakni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Medan, Sumatera Utara. Di sini ada 27 pengungsi Rohingya yang menjadi pengawasan Imigrasi setempat.

 

“Di depan mata saya, adik dan paman saya ditembak. Ayah saya diculik dan rumah-rumah dibakar. Semua keluarga saya habis. Makanya, saya memilih kabur ke negara luar,” kata Jabar, pengungsi Rohingya kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group) kemarin (4/9).

Jabar lari dari Myanmar karena tidak tahan melihat kekejaman pemerintah dan militer pada lima tahun lalu. Selama berada di Rudenim Belawan, Jabar sudah fasih berbahasa Indonesia.

Dia bisa tiba di Indonesia dengan cara menggunakan sampan untuk mengarungi laut hingga menyasar ke daratan Indonesia. Kepergiannya ke Indonesia meninggalkan seorang anak dan istri.

Belakangan, dia mendapatkan kabar bahwa istrinya meninggal setahun lalu setelah ditembak militer Myanmar. “Sedangkan ibu, adik dan anak saya tidak tahu sekarang bagaimana. Karena rumah kami sudah habis dibakar,” ungkap pria 38 itu dengan nada sedih.

Pembantaian dan kekejaman yang terus-menerus terjadi menjadi trauma bagi Jabar. Makanya, dia memilih hidup di dalam penjara daripada hidup di Myanmar dengan kondisi tersiksa. “Kami tak mau pulang ke Myanmar. Kami lebih baik hidup seperti ini,” ungkapnya.

Harapan Jabar yang mewakili 27 imigran Rohingya Myanmar, mereka lebih baik menjadi warga negara lain yang bisa diakui pemerintah. “Kami sangat berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan kami kehidupan dan mengakui sebagai warga negara. Agar kami bisa bekerja dan berkeluarga,” harap pria yang hidup sebatang kara tersebut.

Disinggung tentang peristiwa yang belakangan ini terjadi, Jabar merasa sangat sedih dengan penderitaan saudara-saudara mereka. Bahkan, dia yakin pemerintah Myanmar akan terus membantai etnis Rohingya di sana.



loading...

Feeds