Accera Kalompoang Ditiadakan, Banyak yang Kecewa

Prof Nurhayati Rahman

Prof Nurhayati Rahman

SETELAH lebih dari empat abad, tradisi pencucian benda pusaka Kerajaan Gowa atau Accera Kalompoang bakal tidak digelar pada Lebaran Idul Adha tahun ini.

Ini merupakan yang pertama kalinya, setelah 402 tahun lamanya ritual sakral kerajaan Gowa rutin digelar.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof Nurhayati Rahman menyatakan sedih atas terhentinya tradisi ratusan tahun tersebut. Menurutnya, tradisi Accera Kalompoang harusnya tetap bisa dilaksanakan.

Ia pun menyarankan agar pihak Pemerintah Kabupaten Gowa dan Kerajaan Gowa dapat berdamai. Supaya, aktivitas pemerintahan serta tradisi adat kerajaan tidak saling berbenturan.

“Jalan terbaiknya, berdamai kedua belah pihak yang bertikai,” ucapnya, Kamis 31 Agustus 2017.

“Kalau tidak bisa berdamai, percepat proses penyelesaian hukumnya, supaya stabilitas masyarakat terjaga, budaya, sejarah, dan tradisinya terjaga, terlindungi, terselamatkan,” ujarnya menambahkan.

Ia tidak memungkiri, terkait terhentinya tradisi tersebut, ada banyak masyarakat yang merasa kecewa. Khususnya bagi masyarakat Gowa, serta sejumlah pemerhati sejarah dan budaya.

“Iya banyak orang kecewa, sebuah kerajaan besar yang pernah menjadi simbol kebesaran di Nusantara kini sudah terancam punah, termasuk kepunahan budaya, tradisi dan ritualnya,” tuturnya.

Juru bicara keluarga Kerajaan Gowa Andi Baso Mahmud Karaeng To Mailalang Lolo mengatakan, semestinya tidak boleh ada alasan untuk meniadakan ritual Accera Kalompoang. Apalagi, kegiatan tersebut telah dilestarikan sejak beberapa abat.

“Accera Kalompoang di Gowa salah acara pembersihan benda pusaka kerajaan yang memang rutin setiap tahun dilaksanakan oleh pihak Kerajaan. Sayang kegiatan untuk tahun ini ditiadakan,” kata Baso Mahmud saat dihubungi, Kamis, 31 Agustus 2017.

Seharusnya Accera Kalompoang digelar di Museum Balla Lompoa Istana Kerajaan Gowa, Jalan Mallombassang, Sombaoupu, Jumat, 1 September besok. Baso Mahmud menyebutkan, pasca pembongkaran dan perusakan brankas Mahkota Raja, Istana Balla Lompoa berada dalam status quo.

“Karena itu, kamar penyimpanan benda pusaka masih terpasang garis polisi (police line),” ungkapnya.

Status quo ini, kata dia, sudah satu tahun dan menghambat berlangsung. Dampaknya, ritual sakral Kerajaan Gowa, yang secara turun temurun telah dilakukan keluarga Kerajaan terpaksa ditiadakan.

“Padahal, sudah jauh sebelum terbentuknya Kabupaten Gowa dan Provinsi Sulsel, kita sudah lakukan Accera Kalompoang,” ucapnya.

Menurut Andi Baso Mahmud, pihak kerajaan telah bersurat ke Kapolres Gowa untuk proses mediasi ke Mabes Polri. Ia mengatakan pihak Kerajaan Gowa terus berupaya agar tradisi itu tetap dilestarikan. Hanya saja, upaya tersebut tidak berhasil.

Kasus perusakan brankas memang telah ditangani oleh Bareskrim Mabes Polri. Dan selama proses penyidikan berlangsung, Istana Balla Lompoa dalam status quo.

Menurut Baso Mahmud ritual Accera Kalompoang adalah simbol masyarakat Gowa. Dan kali ini tidak dilaksanakan, karena alasan status quo. (rls/pojoksulsel)



loading...

Feeds

firza husein, selebriti, kasus firza husein, foto hot firza husein, habib rizieq, firza husein dan habib rizieq, kasus pornografi firza husein, foto mesum firza husein, chat mesum habib rizieq

Habib Rizieq Pulang Besok?

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) dikabarkan akan pulang ke Indonesia besok, Jumat (22/9/2017). Namun, hal itu …