Sopir Ambulans Ini Selalu Bawa Kopi dan Gula Pasir, untuk Apa?

Kisah Sopir Ambulans dan Misteri Bubuk Kopi (Radar Banyumas/JawaPos.com)

Kisah Sopir Ambulans dan Misteri Bubuk Kopi (Radar Banyumas/JawaPos.com)

POJOKSULSEL.com, PURBALINGGA – Menjadi seorang sopir ambulans memang memiliki tantangan tersendiri. Hal itu juga dirasakan Sulestiyanto (64), sopir ambulans di rumah duka Pertolongan Pada Kematian Sosial (PPKS) Sentausa, Purbalingga.

Mobil khas ambulan yang dikenal dengan nama Daihatsu Nanas, mulai menyala di halaman gedung rumah duka yang berada di Jalan MT Haryono Karangsentul, Padamara.

Terlihat Sulestiyanto tengah berada di belakang kemudi. Di dalam mobil ambulan, sudah ada peti dan beberapa keluarga yang berduka.

Sirine mobil mulai meraung memecah jalanan di Purbalingga menuju ke pemakaman khusus kaum Tionghoa dan Konghuchu. Yakni di Dusun Sawangan Desa Banjaran, Bojongsari, Bukateja dan Kalimanah.

Rute ini tidak memerlukan waktu lama. Namun kata Yanto -begitu dia biasa disapa, menjadi sopir ambulan bisa melaju tanpa hambatan. Sebab, ambulan dilarang berhenti ketika jenazah masih di dalam kendaraan.

“Paling cepat mobil saya pacu 70 kilometer ketika melintas di jalur luar kota. Namun ketika lokal, hanya 40- 50 kilometer perjam,” tuturnya.

Pria yang selalu mengenakan celana pendek ini mengaku tidak pernah mengantuk selama perjalanan membawa jenazah. Resepnya satu, di dalam bagasi mobil selalu membawa bubuk kopi dan gula pasir.

Bukan untuk diseduh, tapi dimasukkan ke dalam mulut untuk menanggulangi rasa kantuk. Resep itu sangat manjur dan selama bekerja di rumah duka dia tidak pernah diserang ngantuk meski sesaat ketika mengemudi mobil.

“Agustus ini saya sudah mengantar jenazah ke pemakaman khusus dua kali. Semua saya lakoni dengan ikhlas dan saling membantu sesama secara sosial. Meski hanya mengantongi gaji bulan Rp 525 perbulan, saya nikmati,” katanya.

“Namun jika ada orang meninggal, saya bisa dapat tambahan Rp 40 ribu dan mengantar diberikan uang lelah Rp 40 ribu- Rp 50 ribu,” paparnya.

Saat ini Yanto masih bertahan bekerja di rumah duka itu, karena ada nilai sosial dan untuk membantu sesama.

(yuz/jpg/JPC)



loading...

Feeds