Kematian Mendadak Saksi Kunci Kasus E-KTP Peringatan untuk KPK

Ilustrasi

Ilustrasi

KEMATIAN mendadak Johannes Marliem, saksi kunci kasus megakorupsi e-KTP, menjadi peringatan bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meski Johannes dilaporkan bunuh diri di sebuah rumah di kawasan Beverly Grove, Los Angeles, Amerika Serikat (AS), spekulasi bahwa kematiannya terkait dengan kasus yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu tetap merebak.

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menyatakan, tewasnya saksi dalam perkara besar akan selalu dihubungkan dengan orang atau kelompok yang dirugikan keterangan yang bersangkutan “Anggapan itu (berhubungan dengan orang yang dirugikan, Red) wajar meski belum tentu demikian,” ucapnya saat dihubungi Jawa Pos.

Karena itu, ke depan Fickar menyarankan agar KPK lebih memberikan perhatian dan pengawalan terhadap keselamatan para saksi. Selain itu, KPK diharapkan menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam insiden tewasnya Johannes. “Setidaknya, KPK segera berkoordinasi dengan otoritas keamanan AS melalui Interpol,” tuturnya.

Lantas, seberapa besar pengaruh tewasnya Johannes terhadap penyidikan kasus e-KTP yang sedang berjalan di KPK? Fickar menyebutkan, sejatinya saksi yang meninggal dunia tidak akan memengaruhi penuntutan terhadap terdakwa. Dengan catatan, keterangan saksi telah tertulis dalam berita acara penyidikan. Hal tersebut diatur dalam pasal 162 KUHAP.

“Jika keterangan itu sebelumnya telah diberikan di bawah sumpah, keterangan tersebut disamakan nilainya dengan ke­terangan saksi di bawah sumpah yang diucapkan di sidang,” jelas pria berkacamata itu.

Namun, meski tidak berpengaruh signifikan, tutur Fickar, KPK seharusnya meminimalkan potensi kematian saksi seperti yang dialami Johannes. Sebab, hal itu berpotensi menjadi ancaman bagi saksi-saksi kasus korupsi lain yang kini ditangani lembaga antirasuah tersebut. “KPK bisa bekerja sama dengan LPSK membuat safe house,” imbuhnya.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Lili Pintauli Siregar mengungkapkan, pihaknya sebenarnya sempat menawarkan perlindungan terhadap Johannes, yakni pada 26 dan 27 Juli lalu. Sayang, tawaran LPSK kala itu tidak direspons Johannes. “Sampai dia (Johannes) dikabarkan meninggal dunia, tidak ada permohonan yang masuk,” ungkapnya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, belum ada rencana untuk menelusuri kematian Johannes. Termasuk mencari alat bukti berupa rekaman berkapasitas 500 gigabyte (GB) milik Johannes yang diklaim berisi percakapan tentang indikasi kongkalikong dalam proyek e-KTP. “KPK cukup yakin dengan bukti yang dimiliki saat ini,” ucapnya.

Sebelum tewas, Johannes Marliem memang sempat mengklaim memiliki alat bukti rekaman tentang keterlibatan sejumlah pihak dalam korupsi e-KTP. Termasuk Ketua DPR Setya Novanto. Hanya, sampai saat ini rekaman itu belum pernah dibuka. Bahkan, KPK sendiri mengaku tidak pernah mendapatkan rekaman tersebut. “Rekaman tidak pernah diberikan kepada kami (KPK),” ujar sumber internal KPK.

Dalam tuntutan jaksa KPK, Johannes disebut sebagai penyedia barang automated fingerprint identification system (AFIS) merek L-1, bagian dari komponen e-KTP. Penunjukan perusahaan Johannes sebagai rekanan itu melibatkan Andi Agustinus alias Andi Narogong, tersangka korupsi e-KTP yang besok menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Kabar meninggalnya Johannes menyisakan tanda tanya bagi Kevin Johnson, presiden direktur PT Biomorf Lone Indonesia. Dia adalah bos Johannes. Kevin menyatakan belum mengetahui secara detail penyebab pasti kematian anak buahnya itu. “Ini mengejutkan kami,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui aplikasi Linkedin kemarin (12/8).

Johannes tercatat pernah bertugas di Indonesia sebelum memutuskan pindah ke AS tahun lalu. Berdasar penelusuran Jawa Pos, pria yang menggemari dunia fotografi itu sempat berkantor di gedung perkantoran Menara BCA lantai 41, Jakarta Pusat. Hanya, saat Jawa Pos mengunjungi gedung tersebut, petugas menyampaikan bahwa PT Biomorf sudah lama pindah.

(tyo/c9/ang)



loading...

Feeds

Indonesia Vs Vietnam: Laga Krusial

KALAU timnas Indonesia U-22 ingin lolos ke semifinal, kuncinya adalah memangangkan pertandingan Selasa malam ini (22/8). Tim berjuluk Garuda Muda …