Kisah Pilu Siswi SMP Terjerumus ke Prostitusi Online

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSULSEL.com, KEDIRI – Usianya masih sangat belia, 15 tahun, namun LD dijerumuskan pacar sendiri ke prostitusi online.

Adalah Nailur Rochman, 23, tersangka asal Jalan Singkep, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, yang merayu anak baru gede (ABG) ini.

Kepada awak media, Nailur–panggilan pemuda ini–mengaku, memacari LD sejak lima bulan silam. “Pacarannya sejak April,” terangnya ketika pers rilis di mapolresta, Senin (7/8) lalu.

Lalu bagaimana ceritanya hingga Nailur tega menjual pacarnya sendiri? Ternyata dia menjanjikan akan menikahi LD. Ironisnya, biaya untuk pernikahan tersebut akan digunakan dari uang hasil ‘kerja’ remaja asal sebuah desa di Kecamatan Papar tersebut.

Kepada Jawa Pos Radar Kediri, teman satu sel Nailur, M. Arya Mahendra, 19, mengungkapkan hal tersebut. Kini Mahendra juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Dalam kasus prostitusi online ini, mahasiswa asal Jalan Halim Perdana Kusuma, Kota Kediri tersebut berperan sebagai perantara.

Dialah pengelola akun facebook (FB) yang menawarkan jasa prostitusi online melibatkan anak di bawah umur. Penyidik polresta bahkan menyebut, Mahendra sebagai pemain sentral. Dia yang menghubungi ABG yang diinginkan pelanggan sekaligus mencarikan tempat untuk berhubungan intim.

Dari Nailur lah, Mahendra mengetahui hubungan kedua sejoli itu. Dari situ, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Kediri ini juga mendapat informasi bahwa LD sudah pernah berhubungan intim. Kendati statusnya masih pelajar.

“Pas cerita ke saya ya gitu, awalnya LD memang sudah tidak gadis lagi sebelum pacaran dengan dia (Nailur),” ungkapnya.

Setelah mengetahui hal tersebut, Mahendra melanjutkan, Nailur pun memanfaatkannya menjadi kesempatan. Dengan segala buai rayuannya, Nailur pun mengajak LD ke tempat kos milik Machfudi. Lokasinya di Gang V Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto.

Mereka berdua kerap ‘menyewa’ kamar kos di sana. Karena itu, Nailur akhirnya mengenal Machfudi. Ditengarai dari Machfudi, kedua sejoli ini lantas terhubung dengan Mahendra. Pasalnya, dahulu mahasiswa tersebut pernah ngekos di sana.

Dari situ, entah bagaimana ceritanya, Mahendra mengaku, tidak tahu. Namun, menurutnya, yang jelas beberapa waktu kemudian ada yang ‘menawar’ LD untuk diajak ‘kencan’. Dengan rayuan maut, Nailur lantas meminta, LD melakukannya.

“Dia bilang ke LD, kalau bukan aku siapa yang mau dengan perempuan yang sudah tidak gadis,” ucap Mahendra menirukan Nailur saat bercerita padanya.

Tak hanya dipaksa, LD pun dijanjikan, uang hasil kerjanya ditabung. Namun, anehnya seluruh tabungan siswi SMP itu disimpan di rekening Nailur. Sang pacar beralasan uang tersebut akan digunakan untuk menikahi dirinya.

Terpikat rayuan kekasihnya, LD yang masih duduk di kelas III SMP ini pun seakan tak berdaya. Dia pun akhirnya menuruti bujukan pacarnya. Mahendra mengungkapkan, Nailur mengatakan, LD sudah sangat percaya dengan dirinya.

Karena itu, dalam lima bulan berpacaran, Nailur telah ‘menjual’ kekasihnya sebanyak enam kali. Tiga di antaranya ‘dijual’ kepada Slamet Arianto, 36, tersangka asal Dusun Rowoharjo, Kecamatan Prambon, Nganjuk yang juga telah ditahan polisi.

Slamet tertangkap berduaan dengan LD dalam kamar kos Machfudi saat penggerebekkan polisi, Minggu (6/8). Selain pacarnya sendiri, Nailur diduga kuat juga ‘menjual’ perempuan lain. Hanya saja, dugaan ini masih dalam penyelidikan polisi.

“Ada dugaan korban lebih dari satu, itu masih kami dalami,” terang Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara, kemarin.

Terkuaknya kasus prostitusi online yang mengorbankan LD, menambah data kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak ( P2TP2A ) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bersama (P3AP2KB) Kota Kediri mencatat, kekerasan seksual yang terjadi pada anak mengalami kenaikan sampai 42 persen.

Hal ini diungkapkan Ulul Hadiyin, ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri. “Pergaulan anak saat ini semakin mengkhawatirkan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin.

Apalagi tahun ini kuantitas kasusnya menunjukkan kenaikan cukup signifikan. Data pada Januari hingga Juni 2016 silam mencatat terjadi tujuh kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dalam periode yang sama tahun ini, Hadi menyebut, telah terjadi 10 kasus serupa.

“Data tersebut merupakan data kekerasan seksual terhadap anak yang bertempat tinggal di Kota Kediri. Data ini akan lebih banyak jika korban di luar kota atau di Kabupaten Kediri juga dihitung,” paparnya.

Hadi menerangkan, yang termasuk kekerasan seksual terhadap anak di antaranya adalah perbuatan cabul, persetubuhan atas dasar suka sama suka, baik dikomersilakan atau tidak. Kemudian, tindak pemerkosaan terhadap anak. “Kekerasan yang terjadi pada anak tak hanya kekerasan seksual,” tegasnya.

Menurut Hadi, ada tiga kategori lagi dalam kasus kekerasan pada anak. Yakni kekerasan fisik, yang terhitung terjadi sebanyak delapan kasus pada Januari hingga Juni 2017. Kemudian kekerasan psikologis telah terjadi tiga kasus. Dan penelantaran anak sebanyak sembilan kasus.

Untuk menanganinya, Hadi menuturkan, perlu adanya peran orang tua terkait masalah ini. “Orang tua perlu lebih dekat dengan anak dan mengawasi pergaulannya. Ini demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan menimpa anak,” pungkasnya.

(JPG)



loading...

Feeds