Cawalkot 2018 Tak Bisa Daftar Jadi Caleg 2019, Ini Alasannya

Ketua KPU Sulsel Iqbal Latif

Ketua KPU Sulsel Iqbal Latif

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel menegaskan bahwa para kandidat calon kepala daerah tidak akan bisa mendaftar sebagai calon legislatif di Pileg 2019 .

Hal itu diungkapkan oleh Ketua KPU Sulsel, Iqbal Latif. Ia menjelaskan, ketidakmungkinan tersebut telah dijabarkan dalam regulasi PKPU yakni terkait jarak pelaksanaan 2 pesta Demokrasi Pilkada 2018 dan Pileg 2019.

“Kepada kandidat Kepala Daerah yang ingin maju di Pilkada serentak 2018 untuk berfikir ulang jika punya niat juga ingin maju di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019,” jelas Iqbal Latif kepada PojokSulsel.com, Makasaar, Kamis (10/8/2017).

“Jadi seandainya dia adalah seorang Caleg lantas masih menjabat birokrasi atau TNI/Polri bahkan Kepala, otomatis otomatis diharuskan melepasakan jabatannya, apalagi Caleg sekaligus Calon Kepala Daerah. Karena sangat tidak memungkinkan, kalau dia Caleg sekaligus Calon Kepala Daerah karena dibatasi oleh regulasi. Jadi pasti tak bisa,” papar Iqbal.

Lanjut Ketua KPU Sulsel ini beberapa tahapan Pilkada serentak tahun 2018 juga bertepatan dengan tahapan proses pencalonan anggota legislatif. Contoh menurut Iqbal Latief, penetapan Daftar Caleg Sementara (DCS) Pemilu 2019 diperkirakan bulan Mei 2018.

“Prosesnya itu hampir sama. Misalnya DCS, kalau tidak salah bulan Mei. Sementara kita pemilihan kepala daerah bulan Juni. Kalau ada sengketa paling lama bulan 9 (September) sudah penetapan yang terpilih. Bagaimana misalnya kalau dia juga sudah terdaftar di DCS dan terpilih sebagai kepala daerah ?,” ungkap Muh Iqbal Latief.

Kata Iqbal Latief, menjadi Caleg setelah Kandidat Kepala Daerah berbeda saat Pilkada 2013. Menurut Iqbal Latief, saat itu Pilkada dan Pemilu memiliki rentang waktu satu tahun sehingga setiap kandidat Calon Kepala Daerah yang tidak terpilih bisa menjadi Caleg.

“Beberapa Calon Walikota Makassar tahun 2013 ada yang begitu. Karena proses Pilkada dengan Pileg punya rentang waktu yang cukup panjang, namun berbeda dengan konteks sekarang,” tutup Akademisi Unhas ini.

(gunawan songki/pojoksulsel)



loading...

Feeds