Bantaeng Produksi Mi Berbahan Baku Talas

Pemkab Bantaeng dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai menggunakan mesin extruder untuk membuat mi berbahan baku talas, Rabu (9/8/2017).

Pemkab Bantaeng dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai menggunakan mesin extruder untuk membuat mi berbahan baku talas, Rabu (9/8/2017).

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab)Bantaeng dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai menggunakan mesin extruder untuk membuat mi berbahan baku talas, Rabu (9/8/2017).

Mesin extruder ini diresmikan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Prof Muhammad Nasir, saat berkunjung di Bantaeng, 5 Agustu 2017.

Kehadiran mesin ini, berarti UMKM di Bantaeng bisa mengembangkan teknologi pengolahan pangan untuk meningkatkan ketersediaan dan pemenuhan pangan berbahan baku lokal.

Mesin extruder ini dapat memproduksi mie dan beras analog dengan memanfaatkan bahan baku lokal seperti jagung talas, umbi-umbian, dan beragam bahan olahan yang banyak dijumpai di sekitar kita.

“Beras analog berbahan baku pangan lokal telah dites melalui uji klinik dan hasilnya sangat menyehatkan karena kandungan serat pangan tinggi dan memiliki indeks glikemik rendah. Beras analog ini sangat cocok untuk penderita diabetes dan pradiabetes,” jelas Ahli Peneliti Utama Bidang Pangan BPPT, Prof Bambang Hariyanto.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng, Rita S. Pasha, menjelaskan, kehadiran mesin extruder ini mendorong upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Mesin ini katanya bisa dioperasikan kelompok-kelompok tani dan pelaku UMKM.

“Bantaeng kaya akan sumber daya pangan lokal yang masih belum termanfaatkan secara optimal, seperti talas, tasabbe dan uwi. Sehingga kami bekerja sama dengan BPPT sesuai dengan Perjanjian Kerja sama yang telah ditanda tangani antara Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Bantaeng dan Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) dalam Program Pengembangan Technopark Bantaeng,” jelas Rita.

Diharapkan, beras ganyong talas, mie jagung dan beras jagung yang telah diproduksi dapat dikonsumsi masyarakat. “Supaya masyarakat lebih tau dan terbiasa makan beras analog atau mie dari pangan lokal. Kami akan sosialisasikan. Kami mulai dari aparat-aparat di SKPD,” ujarnya.

Setelah sukses di Bantaeng, BPPT akan memoroduksi secara massal mesin extruder ini dengan melibatkan PT Barata Indonesia guna mendukung kedaulatan pangan nasional.

(rilis pemkab bantaeng/pojoksulsel)



loading...

Feeds