Imigran Iran Protes Perlakuan UNHCR dan IOM

Puluhan Imigran kembali melakukan unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan UNHCR di pelataran Gedung Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (9/8/2017).

Puluhan Imigran kembali melakukan unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan UNHCR di pelataran Gedung Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (9/8/2017).

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Puluhan Imigran kembali melakukan unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan UNHCR di pelataran Gedung Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (9/8/2017).

Unjuk rasa tersebut digelar terkait diskriminasi yang dilakukan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM), selaku lembaga yang bertanggung jawab kepada pengungsi.

Salah satu Imigran Iran, Sodef Mohseni mengaku diperlakukan tidak adil oleh pihak UNHCR dan IOM. Sebab keinginan mereka untuk mendapat kehidupan layak di Australia dan Amerika Serikat belum juga dipenuhi sampai saat ini.

“Sejak 2014 lalu, kami telah dijanji oleh UNHCR melalui perwakilan di Makassar untuk menindaklanjuti proses Imigran Iran untuk mendapat hidup layak di Australia dan Amerika Serikat. kami telah lama menanti, namun jawaban tetap sama, “tunggu konfirmasi dari UNHCR di Jakarta,” aku Sodef Mohseni.

Konflik yang terjadi di Iran, merupakan salah satu alasan puluhan warga Iran ini untuk meninggalkan negara tersebut. Apabila kami kembali ke Iran lagi, kata Shodef Mohseni, Presiden Iran Hassan Rouhani akan menghukum kami, sebab kami dinilai telah melanggar aturan Pemerintah Iran.

Padahal, baik UNHCR ataupun IOM merupakan lembaga yang memastikan setiap pengungsi mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh perlindungan. Termasuk, pengaturan pemukiman kembali ke negara ketiga dengan melihat riwayat penentuan status pengungsi.

Sementara itu, senada dengan Shodef, salah satu imigran Iran lainnya Ladan Shafiee mengeluhkan jika selama hidup di wisma binaan UNHCR di Makassar, tidak bisa berbuat apa – apa. Aktivitas mengajar bahasa inggris selama 2 tahun di pengungsian pun dia tinggalkan.

“Karena tidak mendapat kepastian hidup, maka saya pun tinggalkan profesi saya sebagai pengajar bagi warga imigran di Wisma, ini buntut kekecewaan kami pada UNHCR dan IOM yang tidak memberikan kepastian pada kami”, ungkap Ladan.

Terpisah, Pihak UNHCR yang diwakili IOM, Yance Namlea sendiri enggan memberikan keterangan pers terkait tuntutan imigran Iran di pelataran gedung menara bosowa.

(chaidir pratama/pojoksulsel)

 



loading...

Feeds