Potret Pendidikan Siswa Terpencil di Gowa. Miris…

Kondisi sekolah di Kelurahan Cikoro, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Gowa, Sulsel, sepertinya luput dari perhatian pemerintah.

Kondisi sekolah di Kelurahan Cikoro, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Gowa, Sulsel, sepertinya luput dari perhatian pemerintah.

DIRGAHAYU Kemerdekaan Indonesia sebentar lagi memasuki usia 72 tahun. Berbagai persoalan terus diatasi, tak terkecuali masalah pendidikan. Tepatnya di Kelurahan Cikoro, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), sepertinya luput dari perhatian pemerintah.

Sejumlah siswa harus mengeyam pendidikan dengan kondisi sekolah yang non permanen dan segala keterbatasannya. Seorang Citizen Reporter Muhaimin, berkesempatan mengabadikan potret pendidikan siswa terpencil di Kabupaten Gowa ini.

MATAHARI mulai menampakkan cahayanya dari barat, meninggi muncul dari balik gunung Lompo Battang. Perlahan menciptakan kesejukan dari kabut-kabut pagi yang menyelimut. Matahari terus meninggi, sejumlah siswa telah berkumpul menunggu seorang guru datang. Semangat mengenyam pendidikan demi harapan masa depan.

Ketika guru sudah tiba, itulah pertanda bahwa pelajaran akan segera dimulai. Tak ada bel pemberitahuan. Para murid sudah duduk rapi mengisi bangku dan siap mengikuti pelajaran.

Dalam sebuah gubuk yang hanya ditopang oleh balok kayu, dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan luas hanya 6×3 meter dibagi tiga ruangan. Menjadi tempat mereka menimbah ilmu. Siswa tingkat 1 sampai 4 digabung menjadi satu ruangan, siswa tingkat 5 di ruangan sebelahnya. Sementara siswa tingkat 6 harus dipindahkan ke sekolah umum untuk bersiap mengikuti ujian.

Kelas kecil, begitu Mansur Kulle menyebutnya. Ialah inspirator pendiri sekaligus satu-satunya tenaga pengajar di kelas ini. Kelas yang awalnya berada di kolom rumah panggung ini merupakan bagian dari sekolah MIS Yapit Lembang Bu’ne Kel. Cikoro Kec. Tompo Bulu Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Akses yang jauh dan sulit menjadi latar belakang kelas ini didirikan.

Meski dengan segala keterbatasan, para siswa tetap antusias belajar. Menyimak apa yang diterangkan oleh gurunya. Senantiasa bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Kicauan burung dan gesekan pohon bambu yang berada di sekitar kelas selalu menemani mereka setiap harinya.

Karena satu-satunya tenaga pengajar, Mansur Kulle harus bolak-balik ruangan untuk mengisi waktu pelajaran mereka. Para siswa pun harus rela jika guru mereka pindah ke ruangan sebelahnya. Sesekali siswa mengintip dengan memanjat dinding pembatas kelas. Sekadar ingin memeriksa mata pelajaran apa yang ada di sebelah.

Kebanyakan para siswa memakai sendal ke sekolah, hanya beberapa siswa yang memakai sepatu. Paling tidak alas kaki tersebut bisa mencegah benda tajam yang mengancam kaki mereka saat menyusuri jalan ke kelas. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Serta jauhnya akses tempat jual beli dari tempat tinggal mereka.

Ketika jam istirahat, mereka biasanya bermain di depan kelas yang langsung berada di tengah hutan. Kicauan burung dan gesekan pohon bambu yang biasanya kini tak terdengar tatkala mereka tertawa lepas saat bermain. Menggema disetiap cela pohon bambu.



loading...

Feeds

Henrikh Mkhitaryan

Mimpi Henrikh Mkhitaryan Jadi Kenyataan

POJOKSULSEL.com – Menjadi tumbal kesepakatan Manchester United memboyong Alexis Sanchez dari Arsenal, justru membuat tampak bahagia. Pasalnya, Mkhitaryan bisa mewujudkan …
bahaya pakai Headset

Asal Pakai Headset, Ini Bahayanya

POJOKSULSEL.com – Bagi para pemilik smartphone maupun gadget, headset, headphone atau earphone sudah menjadi perangkat wajib. Fungsi ketiganya kurang lebih …

Resmi!!! Ongkos Haji 2018 Naik

POJOKSULSEL. com – Ongkos penyelenggaran ibadah haji di tahun 2018 atau 1439 hijriah mengalamai kenaikan ‎sebesar 2,58 persen. Hal itu …

Stadion Mattonging Ditutup

POJOKSULSEL.com, MAKASSAR – Stadion Andi Mattalatta Mattoanging Makassar, akan ditutup sementara. Ini dilakukan selama perbaikan lapangan, yang mengalami kerukan pasca …